Rerumputan Makam – Penari di Depan Mall – Berjalan ke Arah Rokot – Hujan Malam Lebaran

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Rerumputan Makam 

siapa yang berziarah? Ilalang merundu
membuka waktu
gundukan tanah yang membaca kesenyapan.
Nisan yang diam
di antara mata yang basah, mengurai hari-hari
yang berjarak

seperti baru kulihat kelopak matamu
yang membawa sayap
sayap burung ke dalam keluasan langit.
Tafakur di antara
rerumputan yang tumbuh membagi sunyi

ada yang bertasbih. Sebuah kerinduan
mengalir diam-diam
ke dinding musim yang berputar,
membawa masa silam
menjadi kenangan. Napas berdenyut
di antara debur jantung

yang pernah berlayar.
Jauh di dalam ruang kekosongan.

Juni 2016 

Penari di Depan Mall 

siapa yang menari malam? Tubuh kecil, tegak serupa
patung yang terpahat di dinding waktu. Wajah yang gelisah
bergemulai di antara debu dan angin yang sisa

Baca juga:  Suara 1

dalam dekapan orang-orang. Berlalu lalang terkejut
membaca geliat tangan dan jemari
yang tak jelas untuk apa

seperti bukan senyap, tapi duka
keterasingan dari sebuah takdir yang membayang
di antara lenggak lenggok dan napas yang

berputar di ujung botol wiski yang tua
gemetar menari bersama hentakan kaki
berulang-ulang di arah mata angin: terpejam dan basah

seperti sungai di kelopak mata, mengalir ke arah Sunyi.


Bangkok, Juli 2016 


Berjalan ke Arah Rokot 

Berjalan ke arah rokot
tanah yang basah, bergumpalan lumpur
diputar musim, lelah memintas
langkah yang gemetar

Baca juga:  Silsilah Ruko Tua

jurang yang menganga, di sebalik matahari
pepohonan yang pucat, berderetan berbagi
tanda tanya kehidupan rerimbunan ilalang
yang berjajaran menjaga kelopak pandang

di mana tuhan: bisikmu dalam sunyi.


Hujan Malam Lebaran 

napas rahim
mengalir ke dalam mata
wajah yang berbayang
di antara suara yang panjang
menulis jejak-jejak masa silam
ketika ada yang memanggil
berbilang-bilang takbir
cinta yang berzikir

bulan melipat
bumi yang sujud pada waktu-Mu.

Juli 2016

Irawan Sandhya Wiraatmaja, Lahir 21 Juni di Jakarta. Pendidikan S-3 FISIP Universitas Indonesia. Sajak-sajaknya terkumpul dalam antologi bersama Sketsa Sastra Indonesia, Pendopo, Forum Penyair Muda Jakarta, Puisi Indonesia (1997), Angkatan 2000 (Gramedia, 2000) dan Palagan Sastra (2016). Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel, dan Pisau Itu (2016) dan Dan Kota-Kota Pun (2016) serta Serpihan Esei Sastra dan Sosial Politik, Teror Di Antara Dua Ideologi (2016).  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irawan Sandhya Wiraatmaja
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 4 September 2016