Setelah Urung Meminang Cahaya – Cerita Mata Umbi

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Setelah Urung Meminang Cahaya

Tak kubaca pendar cahayamu, tak kubaca
ketika jemarimu dipinang angin sendawar yang arif dan bijak
Aku tergugu kelu, tak berkata apa-apa
(karena diam adalah cara yang diajarkan oleh sendawar itu)

Tak kuseka tetes darahmu, tak kuseka
ketika tubuhmu dihampar pada pelaminan ratu-raja sehari
aku menunduk kalah, tak berucap apa-apa
(karena aku adalah patih yang tak kenal rasa gamang dan murka)

:Atau kesendirian kah yang sempat tereja
menyebabkan kematian selalu terasa amat dekat

Cerita Mata Umbi

sekantung mata umbi dibawa kaum sunyi dari lesak-lesak hutan, umbi yang digotong
setabah peras madu. umbu itu kuhidang rebus untuk makan siang adik-adik
berperut panci, panci bolong, berlubang.
kucintai bukit kadap penyimpan bulan di rusuknya. kuelusi sberjarak tiga kisaran
lingkar bulatnya. dan seorang perempuan berucap, “bulan itu si mata wayang kita.”


Imam Budiman kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur. Kini aktif di Komunitas Kajian Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku puisi tunggalnya; “Perjalanan Seribu Warna” (2014) dan “Kampung Halaman” (2016).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Imam Budiman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 18 September 2016