Tengah Malam Kamu Pergi – Mengantarmu Pergi – Ketika Purnama Tiba – Rindu pada Puisi

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Tengah Malam Kamu Pergi 

: Slamet Riyadi Sabrawi

Tengah malam kamu pergi
menuju rumah Illahi
pada perbincangan pagi
tanda dan isyarat tak kukenali

Seringkali kita pergi
menikmati kopi dan bakmi
sesudah kita melahap puisi
atau duduk berdiskusi
kopi dan bakmi mengakhiri
sebelum pulang bertemu istri

Kamu telah pergi
malam sebelum dini
ditemani anak dan istri
bertemu Illahi

Pada malam tujuh hari
kubacakan puisi Tjahyowati
istrimu yang gemati
mengantarmu tak kembali

3 September 2016 

drh. Slamet Riyadi Sabrawi MPH, (12 Juni 1953-13 Agustus 2016,) seorang penyair, dokter hewan dan jurnalis) 

Baca juga:  Rumah Susun Lantai 3 - Liburan - Barisan Nurani

 

Mengantarmu Pergi 

: Gitararas Purbahayu Pramudita

Mengantarmu pergi
hujan mengiringi
seperti tangis tak henti
membasahi bumi
tempatmu kini

Alam mengerti
bocah kecil pergi
diiringi tangis
siapa mengenali
air mata habis
hujan mengganti

Mengantarmu pergi
dan tak kembali
tak kembali
duh, Illahi

20 September 2016

Ketika Purnama Tiba 

 : Tegoeh Ranusastra Asmara

Ketika purnama tiba
kita bertemu dibawah cahaya
senyum dan sapa adalah tanda
kita saling berjumpa

Di antara tatap mata
bukan hanya kita berdua
bulan purnama menyinari
kamu tak lepas dari puisi

Baca juga:  Buruan - Gending Gunung Andong - Hotel Plataran - Rokok Jokpin - Kopi Jokpin - Kalajengking - Uborampe

Pagi telah menanti
menunggu kamu kembali
di rumahmu sejati
membawa puisi bertemu Illahi

Pada purnama nanti
kita tak bertemu lagi
tapi puisi tidak pergi
dan kamu menikmati
di tempat tak kita kenali

Yogya, 2016 

Tegoeh Ranusastra Asmara (22 Januari 1947- 8 Mei 2016), dikenal sebagai wartawan sekaligus sastrawan di Yogyakarta.

Rindu pada Puisi 

: Jihad Gunawan

Lelaki ditemani sepi
di tengah hiruk politisi
ia ingin kembali pada puisi,
pada kreasi

Jarak belum jauh
hati sudah luluh
antara puisi dan politisi
seperti langit dan bumi
berdiri di tengah sepi
puisi tak memberi rejeki

Baca juga:  Kopi - Legal Logging - Prajurit - Penyair

Sampai akhirnya pergi
rindunya pada puisi
seperti rindu surgawi
yang kini ditinggali

Yogya, 2016 

Jihad Gunawan, (20-4-1959 – 6-6-2016) penyair dan aktivis politik

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ons Untoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rayat” edisi Minggu 25 September 2016