Tiga Pertanyaan – Lagu Ajal Kita – Ayat-Ayat Bunga – Di Atas Pekuburan

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Tiga Pertanyaan

Seumpama terbangun dari tidur lama,
“Dari mana kita? Ada yang mencari kita.”
Telah berabad berita itu tanggal lembar
demi lembar bagai tanpa ikatan bagai kabar
asal mula ada dirimu hai kau hewan berbulu
dengan sedikit tajamnya pandang merayu
di kulit kayu, hewan, tulang, dan batu terpahat
atas nama sejarah penuh muslihat.
Setelah terjaga sebuah pintu menganga,
“Sedang apa kita? Ada yang mengintai kita.”
Kau tatap matamu sendiri lekat-lekat
kau buka telinga, angkat tangan, kaki cepat
melangkah. Ada yang mencuri kita,
selalu kau dengar, “Mau ke mana kita?”
2016

Lagu Ajal Kita

Kuingat dirimu mengerang saat bercinta
memanggilku tanpa kata hanya suara
seakan kau berkata, “Jalan masih panjang
namun pohon rindu telah tumbang
oleh badai topan kecemburuan
oleh kecilnya kesehatan akal.”
Segala berpusing menutup ruangan
Segala bahasa asmara terpenggal
engkau di timur bersama terbitmu
aku di barat bersama tenggelamku
kita melukis langit hingga hitam
kita menabur bintang-bintang kelam
kini tak tahu aku waras atau gila
kusenandungkan saja lagu ajal kita.
2016

Ayat-Ayat Bunga

Kegundahan, kelopak bunga, sengat matahari
gairah putik, nafsu sari, jalan berdebu
rumah kosong, pekarangan sepi, lubang hati
sepotong cahaya, sekerat asa, dari &
untukmu!
Kusebut namamu selalu, bukan namaku
kau himpun yang gaib dan yang nyata
kautaklukkan yang menderu dan yang mereda
kusebut bukan namaku, selalu namamu— 
kuseru: Sengat mentari pada kelopak bunga,
nafsu sari pada gairah putik, jalan berdebu
pada pekarangan sepi rumah kosong pada
sekerat asa pada sepotong cahaya (lalu) 
pada lubang hati kita pada
doa pada Yang tak pernah tak ada. 
2016

Di Atas Pekuburan

Kalangkah riang hati di setiap perjumpaan;
betapa hai, tidak, kala perpisahan.
Ciuman tangan ibu, restu di kening
semesta. Sujud-sujudmu diperpanjang hening
pertukaran harapan anggukan kepala
senyum disiasati, hati pun berperi,
“Duhai insan, rahasia hayat telah terbuka
sedang kerajaan di dada masih terkunci
oleh sekian keinginan yang terulur
bagai liukan licin sisik-sisik ular
menggigit kenangan yang babak belur
mematuk akalmu senantiasa liar.”
Di atas pekuburan, “Ayah, Ibu berpesan,
alangkah berat beban ketiadaan!”
2016
Narudin lahir di Subang. Lulusan Sastra Ing gris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung pada 2006. Pernah

mengajar di
Universitas Islam As-Syafi iah (UIA), Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta, ARS
International School, dan UPI Bandung. Puisi-
puisinya terhimpun dalam Antologi buku 100
Penyair Indonesia-Malaysia, Ziarah Kata 44
Penyair, Igau Danau, Flows into the Sink into the
Gutter, Indonesian Poems among the Continents,
dan buku puisi tunggal Narudin, Api atau Cahaya (2016). Buku Buku puisi bahasa Inggris Narudin
berjudul But God and Other Poems(2014).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Narudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 11 September 2016