Buku – Sebuah Makam yang Tak Terawat – Penjual Jam – Baper – Pendidikan – Ulat – Tongsis – Selfie

Karya . Dikliping tanggal 2 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Buku

Terima kasih telah kau tata kata-kata 
Di tubuhku 
Terima kasih telah kau pindah isi kepalamu 
Di luar tubuhmu ke tubuhku 
Kini aku berdiri sunyi 
Hingga saatnya nanti 
Sepasang mata hangat 
Menatapku dengan hasrat 
Dan di dalam kepalanya 
Sepasang matanya akan 
Membayangkan sepasang matamu 
Yang telah melahirkanku dengan berat 
Cimahi, 2016

Sebuah Makam yang Tak Terawat

Seperti taman yang dibelit belukar 
Makam ditumbuhi puring kamboja 
Dan kedasih yang menemani 
Nama-nama yang dipahat di nisan 
Makam tanpa juru kunci. Sarang laba-laba 
Memenuhi pintu masuk seperti menyaring 
Serangga seperti menyurung angin perlahan 
Tak ada yang mesti dirawat jika badan 
Telah dibaringkan jika tubuh telah ditanam 
Di taman yang dibelit belukar dan sarang 
Yang menyaring segala kesepian 
Gombong, 2012-2016

Penjual Jam

Di toko besar penjual jam 
”Apakah toko ini menjual waktu?” 
Pemilik toko diam ”
Apakah toko ini menjual baterai abadi?” 
Pemilik toko diam 
”Apakah tik tok semua jam seperti detak nadi?” 
Pemilik toko diam 
”Apakah semua jarum di sini seruncing maut?” 
Pemilik toko diam 
”Apakah toko ini sudah tua, setua waktu?” 
Pemilik toko diam 
”Apakah Anda bisa memperbaiki waktu saya 
Jika kelak rusak?” 
Toko seluas segala ruang itu senyap 
Tak mau menjawab 
Cimahi, 2016

Baper

Kadang ia datang tiba-tiba 
Sambil menjinjing tas yang isinya 
                         Butir air mata dan bumbu haru 
Entah, tak jelas di mana rumahnya 
Apakah di kepala yang rumit petanya 
                         Atau di dada yang jelas-jelas 
                         Tak jelas
Baper sukadiajak jalan-jalan sama
Tukang motivator, kadang ustaz, atau 
Penulis yang hobi bikin keki, atau
dibuang sembarang di medsos dua ratus
Tiga belas kali dalma semenit
Jika datang di saat tepat, ia berbaju
Cahaya yang gampang pecah dan
Runtuhannyaa akan mengenai setiap benda
Kadang kami menghindarinya, terutama
Ketika asyik menyeruput kopi sambil
Menikmati puisi Jokpin, meskipun
                         Ya, ia rajin bertemu
                         Tanpa permisi lebih dahulu
Cimahi, 2016

Pendidikan 

Pendidikan terbuat dari
Gerusan bahan kimia dan
Herbal dlama kapsul
Pendidikan bangun tidur
Menjelang siang. Ia tidak suka
Kopi dan selalu tergesa berangkat
Kerja
Ia berumah di kafe
Membicarakan buku dan film
Dan cengengesan ketikka
Membaca puisi
Ibunya adalah kardus tempat 
Menyimpan benda-benda
Lama. Sepatu mereka berwarna
Langit. Tasnya tak pernah tersenyum
Pada anak-anak
Orang-orang rumah itu
Seperti obat pereda rasa nyeri
Seseorang kadang mengharapkan
Mereka datang cepat seperti
Makanan yang bisa dipesan
Lewat telepon genggam
2014-2016

Ulat 

Ulat itu memakan daun
Ulat itu memakan daun
Ulat itu terus memakan daun
Ia tak mau bertapa
Ulat itu terus memakan daun
Tak ingin menjadi kupu-kupu
Ulat itu memakan seluruh waktunya
Dan lupa ia sedang di mana
Ulat itu memakan dirinya
Dan lupa arti diam bagi kehadirannya
Cimahi, 2016

Tongsis

Kenangan itu panjang, Tuan 
Ia bisa dilipat dan dipanjangkan 
Ia bisa melihat kita dari jarak 
           Yang diinginkan 
Bersiaplah bergaya agar 
Anda lebih berdaya 
           Menjadi manusia 
Maka, caranya dengan memendekkan 
Dan memanjangkan cara pandang
Kita yang pendek
Cklik!
Kenangan akan melahirkan kenangan
Dan suatu waktu nanti suka-suka
Kita bagikan pada sesiapa
           Cklik!
           Maka kita pun ada
Cimahi, 2016

Selfie

Selfie sedang sendirian 
Matanya menatap mataku yang genit 
”Apakah kamu tak pernah tidur, Selfie?” 
Selfie berkedip saat bibirku manyun 
Ketika aku merasa cakep dan anggun 
Selfie selalu sendirian tapi ia terus bersamaku
Dan ia ada di mana-mana bersama siapa-siapa
Selfie lebih setia daripada janji
           Ia setia pada satu wajah
Yang selalu menghilangkan satu atau dua
Tangan tuannya yang ditatapnya
Cimahi, 2016

Hasta Indriyana lahir di Gunung Kidul, 31 Januari 1977. Buku puisinya Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003) dan Piknik yang Menyenangkan (2014). Sedang menyiapkan buku puisinya yang terbaru, Rahasia Dapur Bahagia.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Sabtu 1 Oktober 2016