Burung Kenari – Dalam Peta

Karya . Dikliping tanggal 30 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Burung Kenari

Burung kenari menyanyi kemudian terbang merakit pelangi
Mengulang pandangan menyulang keadaan
Burung kenari bersiul menengadah di atas dahan
menunggu yang akan datang, menanti petualangan hilang.
Ia mengeluh pada Tuhan: bersaksi pada sepi, berkaca dalam sunyi.
Malam ia rakit dalam sarang, bintang jatuh bukan lagi harapan.
Daun kering memeluk tubuhnya, bulu hangatkan airmata. Burung kenari tak lagi
mengenal pagi, suara sumbang karena kenangan
Kini ia terkurung mengikhlaskan kenyataan
Terbanglah kenariku, peluk lagi cakrawala
Sampaikan pesan bahwa cinta berhasil menipu kita
Terbanglah kenariku, sudah terlalu lama kau aku penjarakan.
Nyanyikan dengan lantang, bahwa mimpi menjadi ruang pertemuan.
Terbanglah kenariku hitung kembali bintang dan dekatu purnama,
jangan menangis karena tak guna air mata.
Majalaya, 17/8/2016

Dalam Peta

Aku ingin mengembalikanmu ke sini, kembali menyala tersenyum tanpa suara.
Di antara kebisingan, aku tak melihat kenyataan, nyatanya habis di dalam lamunan.
Khairani, purnama sudah lelah aku pandangi.
Bahagialah sebagai cahaya dan kecupanmu ditunggu semesta.
Kau harus kembali dan emmatahkan rinduku, kita mesti mendengar napas uang diburu.
Kita harus menjawab waktu, setiap daya dan upaya, kehendak dalam damai,
berkaca dalam sepi serta puisi di pagi hari, tanpamu jelas menurun kualitasnya.
Bandung, 16/8/2016


Elgana Mumarokah. Penulis alumnus Jurnalistik UIN Bandung, aktif di Komunitas JAS (Jaringan Anak Sastra). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Elgana Mubarokah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 30 Oktober 2016