Dalih – Akhir Subuh – Tengok

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Dalih

Semprot aku
dengan bau mekar
kembangu. Lirihkan aku
dengan gesek
daunmu. Jangan menghapus
bisikku,
tepuk tanganku,
atau
ngorokku. Lewat situ
mimpi segala mimpu
melepaskan
epidemiku
ke belantara
akarmu
yang belum disisir,
belum disusur. Beri aku
sayatan
dari durimu, ketika
kau mulai terangsang
mendekatkan,
menggetirkan,
menguatkan simpulan.
Hisaplah
kental darahku
yang didedah
oleh terangmu. Lalu
aku akan menyerut
lembut
kambiummu,
sebelum
kau
disampul dalih

Surakarta, 2016

Akhir Subuh

Ia sangsi atas titahmu yanng tak disetor.

Senyum ambangmu berkilat
di hadapannya. Barangkali ia keliru
mengartikan titahmu.

Baca juga:  Balada Tanah Gersang

Dan bahasa beku dalam titahmu
adalah kutipan buat kutikan minggunya.

Kau menangis tersedu-sedu, tanpa malu.

Apakah ia seoranng suci? Tunggu,
kau enggan mengetahui makna bulan
bergelinding di akhir subuh.

Kau keliru, pikirnya, setelah
cerdik mengulur hitungan mundur.

Telapak tanganmu dibuka dan di atasnya
ada segumpal lempung melayang.

Itu semesta kehidupan yang belum kau
perlihatkan, kecuali ia tampik.

Titahmu berniat keluar dari dagingnya.

Gresik, 2016

Tengok

Di dangau, aku tengok petak-petak sawah.

Baca juga:  Putik Magnolia dan Duka

Langit pun hijau. Kokok ayam menepi.

Di antara petak-petak sawah,
terselip ruang gaib yanng pernah aku intip.

Aku masih terpana pada lumut menutup
batu, hama nakal mencuri bulir padi, atau
bau asap dari pembakaran rumput

Dan aku tolak mata mengaku avant-garde
yang menuduh gagu petak-petak sawah
yang membenamkan gelombang masygul
hingga mengentalkan khayal pinggiran

Tubuhku mulai ringan
di dangau dengan tangan kanan
menggenggam asam kopi.

Tapi yang aku gemetarkan bayangan
dingin tadi malam. Yang terbikin
dari gejala tak terhapus-hapus, padahal
waktu menjulang basi.

Baca juga:  Harga Kebebasan - Mumuk - Kota Tuli

Kubuang riak ke ceruk alas duduk dangau.

Surakarta, 2016

Aji Ramadhan lahir di Gresik jawa Timur, 22 februari 1994. Buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 8 Oktober 2016