Lidah Biru – Pohon Hujan

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Lidah Biru

Di lidahmu pernah tertanam aneka kitab dari pelbagai masa:
Dari kitab suci hingga kitab puisi.
Karena tak pernah lelah kau mengaji ayat dan tafsirnya.
Kukira kalian akan terus sepaham dan sealiran
Hingga kalian berselisih paham soal kitab mana yang paling hijau
Kemilau yang mampu menampung bisa paling mematikan.
Lidahmu tampak semakin biru
Lebih biru ketimbang langit atau merak biru.
Sementara kau masih percaya ungu adalah warna aslimu.
Lekaslah, tanggalkan semua sisikmu
Agar semakin pandai kau meloloskan diri dari sergapan lidahmu.
Wahai, lidahmu kini tumbuh kian panjang bercecabang.
Dan, pandai nian ia menari, melilit, dan mengelit
Bahkan kini ia mulai fasih menari di tubuhmu.
Ia terus membujukmu menanggalkan jubah coklatmu
Dan mengganti dengan gaun biru kesukaannya.
Maka belajarlah berdiri meski kautahu
Sang raja yang selalu membuatmu cemburu
Telah menjadi biduan di pasar malam.
Atau berlatihlah melingkar
Agar ekormu leluasa menyusun siasat makar.
Tapi berhentilan menyanjungnya
Sebab ia tak pernah segan menyanggahmu.
Sebab ia tak pernah berhenti mendarasmu.

Baca juga:  Bayangan Pohon - Anak dan Ayah - Di Rumah Penyair - Kartu Katalog - Pesan - Ajalmu Jauh di Pulau - Jarak antara Bermimpi dan Terjaga

2014

Pohon Hujan

Ketimbang kautanam beringin atau trembesi
Yang hanya meneduhi halamanmu,
Tanamlah hujan sebab ia mampu menghapus hausmu.
Namun jangan sembarang biji hujan kautanam.
Pilihlah hujan yang berakar tunggang.
Agar mampu ia menghunjam bumi,
Mengangsu dingin dari jantungnya,
Menukar gelap dengan beningnya.
Sabar, sabarlah menunggu.
Benih hujan yang baik pasti akan
Merentangkan akarnya terlebih dahulu.
Baru tunasnya membelah.
Tanahmu yang paling subur.
Janganlah khawatir akarnya yang besar
Akan merusak pagar di halaman rumahmu.
Bahkan mungkin kau tak memerlukan pagar
Jika hujan tumbuh subur di sekeliling rumahmu.
Kelak, jika hujan yang kautanam sudah besar,
Tak perlulah kau repot-repot membersihkan
Dedaunnya yang jatuh. Sebab setiap lembar
Yang jatuh melesap ke tubuhmu yang dahaga.
Sementara rerumbainya menyelimuti sekujur
Musim yang seperti tak pernah berganti.

Baca juga:  Puisi Mardi Luhung

2015

Muhammad Akib bekerja di Jakarta.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Akib
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi Minggu, 16 Oktober 2016