Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh – Bar – Di Sudut Tembok Kraton

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh

Sudah menyatu dalam diri, Seperti Merapi yang kokoh berdiri
Mengalirkan air sampai ke muara laut selatan
Tempat para puteri membangun cepuri.
: Manusia adalah Manusia
Yang mewujudkan kemanusiannya.
Memungut kata-kata
Yang dipungut dari akal sehat dan mimpi-mimpi
Aku kenang Ragil Suwarna Pragolapati
Yang setia menyambangi Sudut-sudut sunyi Berpeluh puisi
Seperti Musimin yang sederhana memungut Anggrek dari kaki
Merapi
Bersama hati merawat dan menyirami.
Ada warna pelangi di lukisan batik Hendri
Warna daun dan getah, warna tanah yang kusam dan muram
Sri gading, bixa orellana memerah sirih di kain penari
Bukan warna rumusan kimia yang dihitung dengan matematika
Menjadi racun masa depan manusia.
Penyu dalam perburuan yang tertatih berlari dipunggung
matahari
Bersama Wahyudi sang Lurah yang peduli merawat Sampah
dan biji
Menjadi rasa Hamemayu Hayuning Bawono
Menyangga Panggung Krapyak nyawiji
Anak anak Alam Bernyanyi dengan hati belajar kehidupan
Menantang Matahari Menyapa rembulan
Mbak Wahya merawat keberagaman manusia yang murni dan
hakiki.
Puisi meneguhkan memasuki Waktu ke waktu
Setia menjaga nurani
Seperti yang diajarkan Ki Ageng Surya Mentaraman
Hidup itu mulur mungkret.
Sorosutan, September 2016

Bar

(in memoriam bagi Kusbini)

padamu negeri kami berbhakti
padamu negeri kami mengabdi
Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami
suara biola itu menyayat hati
suara jutaan tangan yang bergerak
sesuatu yang mempertemukan makna
menjadi simpul diantara kita
suara biola itu menyatu
yang memainkan api dan memadamkannya
yang mengikat ombak dalam gulungan jiwa
mengasuh angin barat angin timur
di halaman rumah kita
diantara senar-senar yang bergetar
irama satu suara irama satu nusa
yang memanggil manggil mengajak berdansa
irama tanah merdeka
yang mengiringi kita bekerja
irama kehidupan yang membangun rumah tinggal
bernama : Indonesia
suara biola itu, kini
menjadi biola hidup yang terus meletup-letup
yang mempertemukan engkau dengan Tuhanmu
Makam seniman, medio 2015

Di Sudut Tembok Kraton

Siapa yang menyapa kita
Lewat jendela angin ?
Tapak kaki siapa yang tertinggal
Di pojok pintu gerbang
Tak ada orang?
sunyi
Siapa yang bicara
Di balik pohon didalam pagar
Pangeran atau Permaisuri ?
Suara-suara itu terus berlalu
Seperti waktu
Jotawang,2009
Sigit Sugito, mendirikan Sanggar Study Teater dan Sastra SILA Bantul (1984), Ketua Koperasi Seniman Yogyakarta, sekarang Tinggal di Jalan Garuda 974 B, Kampung Sorosutan RT 21/06 Umbulharjo bersama istrinya Amini Juwaridah dan Anak semata wayangnya Anugrah Sasi Raya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sigit Sugito
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 16 Oktober 2016