Sepahit Kopi – Pagi yang Dingin – Terasing

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Sepahit Kopi

hemparan masa terpampang mengernyit
sesempit ejaan sepahit kopi seduhan jemarimu
peristiwa kehidupan berjalan bertubuh legam
adakah kenangan bertubuh tenang
adakah pesan sampai di waktu berkesan

teropong ini kulekatkan pada mata
memandang jauh memasung panorama
bayangan membantu membusung lengang

warna-warni kuncup mengecap lelap
di ujung mata memandangi warna-warni yang kelam

Pagi yang Dingin

dinginnya pagi ini mirip tatapan matamu
banyak tanya hendak kutuang di kopi sisa minumanmu
lalu kuhidangkan kembali padamu

Baca juga:  Kulit Iman - Menunggu Pagi - Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan - Rubayat Tahajud

sepatah kata tak mampu kulepas
menawar luka yang kita gores
di rummah yang melelh kecemburuan

Terasing

tersiar kabar riwayat negeri tumbuh kembang mimpi
melumat janji menjarah segenggam fitrah
pun padi yang mulanya pongah merunduk
serendah tiupan peramu puisi fakir

pada menara gedung yang paling tinggi
setinggi layang-layang yang benangnya putus
berlari bilamana angin memberi restu






Aswita Simarmata, lahir 4 Agustus 1992. Menyukai dunia literasi khususnya puisi dan cerpen. Kuliah di Universitas Negeri Medan Jurusan Sastra Indonesia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aswita Simarmata

Baca juga:  Di Kafe Kurniasari - Hidzib Perjalanan

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 9 Oktober 2016