Lautan Api – Malam Begitu Cepat

Karya . Dikliping tanggal 6 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Lautan Api

Malam kian durja, langitnya masih sendu
Entah apa gerangan, mungkin badai atau hanya gerimis
Nopember empat lima,
Homann dan Peanger beradu nasib
Bangunan itu tumbang dalam seragan
Kau pantas, tapi malah membumerang
Seakan tanah ini milikmu, tuanmu dalam arti sejati terusir perih
Jelas saja darah ini berdesir, menggelegar lebih cepat
Udara pun tak sudi berbagi denganmu, lagi,
Maret empat enam,
Hawanya kian gulita, jiwa-jiwa ksatria mengalir panjang
Meninggalkan mukim dan kenangan
Tepat pergantian detik, masa ujung malam ke dini hari
Masa zat yang sedang berpijar, beroksidasi, berkilat melepas panas
Seketika nyalanya membumihangus kenan yang tak usai
Dayeuhlolot melangit merah,
Daripada koloni yang bukan darah kami bertahta, lagi,
Sekutumu pantas menelan dinamit meski tanah kami berasap pekat

Baca juga:  Taman Kota Amed

Malam Begitu Cepat

Pertemuan kita antara nyala lampu yang temaram
Membawaku mengalir bersama sajak-sajak tentangmu
Selepas senja, langitnya perawan kemerahan
Di atas kedera besi, senyum itu malaikat yang telah jatuh
Senyap-senyap cahaya berlalu lalang
Malam kian cepat, garis bibirmu masih pekat
Esok, tak kutemui lagi rambutmu yang melengkung hingga ujung bibir
Leuwi Panjang, tanganmu melambai
Lagi, kau hilang di sela asap berurai
Sajak ini bermuara di terminal bersama roman kita tadi malam

Baca juga:  Penghuni Hutan Larangan - Ladang Bukit Menurun




Rafdisyam, lelaki berdarah Minang yang sekarang menyukai Bandung. Penulis berdomisili di Gegerkalong Girang, Bandung.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rafdisyam

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 13 November 2016