Menumbuhkan Benih Tuhan dalam Tubuh – Pagi Paling Keruh

Karya . Dikliping tanggal 27 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Menumbuhkan Benih Tuhan dalam Tubuh

tiba-tiba sebutir benih berkecambah pada lidahmu,
diguyur hujan ayat dan zikir malammu,
akarnya bertumbuh,
merembet dari pangkal lidahmu,
meliuk-liuk
seperti lenggok pinggul biduan yang sedang
bergoyang,
berolak dalam palung kerongkonganmu
sampai-sampai suaramu beralih parau,
“inilah benih tuhan,” kau justru menepuk dada.

benih itu kaubiarkan tumbuh dalam tubuhmu,
maka setiap ada hal-hal yang terlihat tidak beres,
gampang membuatmu protes.
saban waktu kau gelisah,
ayat-ayat dan zikir
dalam mulutmu akan bergemuruh,
semakin benih itu menggerogoti
dan melumpuhkan saraf-sarafmu.

terakhir, sehabis menyaksikan
sebuah pemberitaan di televisi
yang menurutmu fi tnah belaka,
bukan main kau emosi.
meluncurlah rentetan ayat dan zikir malammu,
sehingga, akar dari benih itu mencapai lambungmu,
lantas menusuk lambungmu hingga bocor.
celaka lagi, kau tidak dibikin mati,
setakat kena penyakit asam lambung saja.

Baca juga:  Jaelangkung - Dunia Kupu-Kupu

kau sering kesakitan sendiri, dan mulai berniat
berhenti memandang dunia yang lakunya
memuakkan,
kau teramat ingin mencongkel bola matamu
agar tidak kelihatan lagi hal-hal menjijikkan,
tapi terasa ngeri-ngeri sedap juga,
akhirnya, matamu hanya kaututupi
dengan sehelai kain hitam tebal saja.

“kenapa dibiarkan tumbuh itu benalu?” desakku.
“terkutuklah mulutmu! ini benih pemberian tuhan,.
butuh waktu lama menumbuhkannya. tunggu saja
ia berbunga yang rekahnya berbau surga,”
sanggahmu.

yang dinasehati tidak terima,
malah menusuk telinganya sendiri
dengan sepotong besi panas.
kini,
kau bukan hanya tak melihat apa-apa.
tapi,
juga tak mampu mendengarkan sesiapa.

bibirmu terus menggelegar bagai petus,
badai ayat dan zikir malammu,
tubuhmu purna dirasuki.

Baca juga:  Malang di Kalimalang - Tugu Tani - Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri

sekarang, aku mulai sulit membedakan
kau ini orang atau makhluk rimba apa,
sebab, tangan dan kakimu serupa akar pohon.

ketika dari ubun-ubunmu menyembul tunas,
cabang dan ranting menjuntai keluar dari mulutmu,
kau sumringah dan kian bergairah.
benih tuhan telah menjadi pohon tuhan
yang mencacak dan sanggup mengambinmu ke
udara.

tinggi dan semakin tinggi
tinggi kau semakin tinggi

bunga yang kaukatakan berbau surga
sesungguhnya tak pernah tumbuh,
hanya, pohon tuhan telah membelah langit,
membawamu ke sebuah tempat
yang …
sebutlah beraroma surga.

Pekanbaru, November 2016


Pagi Paling Keruh

akan kutunjukkan padamu, sebuah pagi paling keruh
di mana pendar surya, tak lagi hangat ranum
bibirmu
di mana dendang sepasang tekukur,
mengingatkanku pada lagu-lagu kesukaanmu.
penuh makna,
seperti bertandan-tandan puisi,
kata-kata lebih teduh dari rekah kuntum
daun-daun meneteskan embun,
degup jantungku memeram rindu,
menetaskan kepedihan
yang tak tuntas di linimasa.
atau oleh sebuah pelangi yang ditulis nama kita,
biar aroma cinta menguar di udara,
pagi tetaplah kusut kasau,
tak sepadan kepergianmu.

Baca juga:  Tuhan di Lubang Batu - Kepulangan - Ojhung

Pekanbaru, 2016



Ardilo Indragita, lahir di Teluk Kuantan, Riau, 27 Februari 1994. Karya-karyanya terbit di beberapa antologi dan media cetak dan daring lokal seperti Riau Pos, Riaurealita.com. Sedang menimba ilmu di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ardilo Indragita

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 27 November 2016