Pelajaran Bahagia dari Putriku – Berita Pagi – Kebahagiaan Putriku Membaca Buku

Karya . Dikliping tanggal 27 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Pelajaran Bahagia dari Putriku 

Siang adalah sebutir telur
langkahmu sepasang kungkang
dari balik pintu, secuil mentega
mencium pipimu, kelinci-kelinci kecilmu
melompat riang, bola matamu terkikik

senyummu segenggam gula

dua butir telur mulai bertengkar
jemarimu menari bersama adonan
kau mulai melukis wajahku
keningmu bertabur manik-manik

matamu menyimpan sisa dongeng tadi malam.

2016 

Berita Pagi 

Ledakan melayang perlahan, menyapa beranda
ruang tamu, juga meja makan, kita tergesa
pura-pura menutup mulut sebulat rongga
pistol dengan mata terbeliak melebihi si tolol.

Entah siapa yang terbaring di sana
mungkin Budi, Ana, Banyu, atau Lidia
kita menjadi paling tahu alasan milyaran
atom plin-plan di tubuh mereka ngambek,
memilih diam, atau melancong.

Baca juga:  Di Pantai Itu - Jamur - Jarak

Mereka tidak sempat menulis wasiat
menyelipkan uang jajan di bawah bantal
membacakan dongeng sebelum tidur
mengaplod gambar terbaru bersama kekasih

ketika kita curi-curi dengar, ambil satu dua hal
jadikan slide warna-warni atau sekedar sephia
bernarasi
tak kalah perih ketimbang puisi Wislawa
Szymborska.

Dan ketika nisan tertancap di sepetak tanah kuburan
kita matikan televisi, lipat koran pagi,
kunyah sepotong roti isi, sesap secangkir kopi

cekak-cekik di pesawat telepon,
seakan tak pernah terjadi apa-apa di sana.

2016





Kebahagiaan Putriku Membaca Buku

Abinaya Ghina Jamela
Kuberi putriku petualangan pertama,
ensiklopedia dunia.
Ekor paus menghempas laut,
ia tengah membalik halaman buku.
Bibir mungilnya lalu terguncang
seperti perahu.
Di atas bantal ia rebahkan kepala,
bola lampu tergantung di plafon,
Itu bulan, bisiknya. Kemudian ia mulai
menghitung kumpulan bintang, tidak lama
telunjuk letihnya seperti lintasan meteor
jatuh di halaman buku ketika kura-kura
betina menepi ke pantai menumpahkan telur.
Berikutnya deretan planet dalam kertas foto
seperti terlihat dari jendela pesawat antariksa,
kini kedua matanya menatap tenang—
ia membayangkan labu buncit
tumbuh di halaman rumah
tak lain planet Mars.
Ia berbalik, berpose seperti tentara tiarap,
menatap bumi terbentang pada permukaan bola.
Susu kotak di tangan kiri dan satu pipet merah jambu
menyusup ke mulut, membuat ritme santai,
mendadak tumpah, sebentuk genangan awan
tercetak di akhir lembar halaman. Lekas-lekas
dihapusnya, itulah saat sayap seekor undan
menyelesaikan petualangan,
seperti kebahagiaan putriku membaca buku.

2015-2016


Yona Primadesi, lahir di Padang, Sumatra Barat. Staf 

pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri serta 

bergiat dalam kegiatan literasi anak. Tengah menem

puh pendidikan doktor di Universitas Padjadjaran, 

Bandung. Menulis puisi, cerpen, dan esai.

Baca juga:  Tragedi Kampung Janda, 1983 - Peta Masa Silam, 1975 - Indeks Salah Catat, 1998 - Berseluncur dalam Dongeng




Rujukan:

[1] Disalin dari karya Yona Primadesi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 27 November 2016