Periuk Cimanuk

Karya . Dikliping tanggal 27 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

di sinilah percik panca tirta bermuara. dari Cirebon, Indramayu
dan Majalengka. tempat di mana bunga padi menemui rumput
berlanjut ke Sumedang hingga ke Garut

hamparan kiri dan kanan rapi tertata, sepanjang seratus delapan
puluh kilometer bentangnya, buah dari cahaya lembah bintang
timur. bangkit dari doa basah yang mengusur
dihangati nyala lampu air semesta. riuh kecipak riak di atas
batu purba. pelepas benih dahaga hijau persegi. meraih gelar
daerah utama penghasil bulir padi

sementara, kau terbaca di kertas basah milikku. berawal dari
Aki Pengebon bekisah tentangmu
atas pertemuannya dengan abdi Mataram, saat sisik bulan
purnama mulai tenggelam, bernama Arif dan Arim Muhammad
pembawa pesan pangeran Tjakraningrat

Baca juga:  Sesudah Api - Armend dan Newton - Armend dan Hawking - Armend, Kenapa Ada Newton dan Hawking?

hingga suatu saat ujian menerpa atas tabiat musim yang enggan
bijaksana. gemar ingkar pada langit dan cuaca, menurunkan badai,
hingga genangan luas tercipta. akan tetapi, pesan ini haruslah tiba
teruntuk Bupati Sumedang, Suradiwangsa

dan kedua abdipun bertanya, sungai apa gerangan tercipta
Aki Pengebonpun berkata: Inilah Sungai Cimanuk bernama.
sembari melihat mata air dari pohon-pohon pesta. serta kaki
gerimis burung manis berkicau di dahannya tempat di mana
benang jerami tumbuh menanti. dnegan semi bunga cempaka
di tiap tepi. jua akar gelombang yang disembunyikan semanggi

Baca juga:  Katam - Harimau - Benci - Raga Berakhir - Dadamu

rajin menukar  warna kering, menjadi pelangi
dan akhirnya izinkan aku bercerita. tentang kecipak air yang
selalu mengirim rasi bintang di ujung bulir padimu. sembari
membelokkan warna bukit penuh pilu. untuk tanda hujan di
seribu lembah. untuk desir limpah aliran pembawa berkah

tak sadar, badanku telah basah oleh bulu embun rupawan
bersanding pohon tua yang telah dibangkitkan. pagi ini
waduk Jatigedhe menjadi tujuan. agar ujung periukmu,
lekas kutemukan.

Garut, 6 Oktober 2016


Kinanthi Anggraini, lahir di Magetan, 17 Januari 1989. Juara I Puisi Terbaik pilihan Gerbang Sastra, Bali (2014). Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul Mata ELang Biru (Pustaka Puitika, 2014). Sekarang menetap di Garut, Jawa Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kinanthi Anggraini
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 27 November 2016