The Persistence of Memory

Karya . Dikliping tanggal 20 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Di tubuh mimpi, kita menjebak waktu
dalam jam-jam dinding lebih dari satu.
Kita ragami mereka dengan rona yang
sukar ditampik ingatan; warna petang,
bulat bola mata, dan kelabu harapan.

Di luar mimpi, kita hanya kerinduan
yang enggan tatap-muka. Kehidupan kota
telah menjauhkan langkah kaki dan kesibukan
melelehkan semua waktu yang kita miliki.

Waktu paling manis; bercat oranye
karena darah dan tangis, habis
dikerubungi gerombol semut.

Waktu lainnya suluh bulan dan
berjatuhan di berbagai tempat;
di ranting pohon yang dikalahkan
kemarau panjang, di selimut yang
dulu kerap dipakai untuk menyingkap
tubuh kita, di ujung batu yang siap
lebur mengempas tanah

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-4 Juni 2016

Kita pun hanya bisa memandang
pengingat waktu bertumbangan
dari langit seraya mempertanyakan;
leleh waktu atau lelah kau dan aku
yang mengohabisi seluruh jam dinding?



Jemmy Tanuwijaya. Saat ini mengenyam studi sastra Inggris di Universitas Gunadarma Depok.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jemmy Tanuwijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 20 November 2016