Ulang Tahun dalam Akuarium – Malam Kesembuhan – Jika – Sumedang – Kabel – Pada Akhirnya – Darah Tanah – Penjual Tambang

Karya . Dikliping tanggal 27 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Ulang Tahun dalam Akuarium

September adalah gajah merah jambu yang berenang riang. Ceria, Kami
mendaki belalainya. Menyalakan api dalam air. Api yang kami suri dari
dalam hati kami. Nyalanya centil dan abadi. Tapi api ulang tahun harus
padam untuk memulai pesta. Gajah merah jambu mengajak kami
mengembara. Melewati batu-batu yang mirip badut. Bernyanyi dan
menari. Ikan-ikan menanggalkan sisik dan menyusunnya jadi kue
warna-warni. Di kuping gajah kami membaca peta harta karun. Alamat sebuah
goa yang menyembunyikan kado pandora. Kado yang mesti ditemukan
untuk memulai pesta. Gajah merah jambu membawa kami menabrak
karang. Menembus ganggang. Kado didekap gurita. Girita yang terus
mendengkur menyemburkan mimpi gelembung udara yang mendaki air
kemduian menjelma ribuan perahu di atas sana. Perahu yang berlayar dan
pecah. Berlayar dan pesah. Ekor gajah menggelitik gurita. Kami menarik
kado ke punggung gajah. Membukanya dengan ciuman. Aha. Hadiah
istimewa. Sebuah terompet. Pesta segera dimulai. Tiuplah, Tiuplah api itu
dengan bunyi. Gajah merah jambu meledak. Kami saling  memeluk sambil
meledak pula. Menjadi ikan-ikan bergaun pesta. Menjadi cahaya yang
meliuk-liuk. Menjadi sebaris kata yang berenang dan berjoget. “Selamat
ulang tahun.” Pesta dimulai. Pesta dalam akuarium. Akuarium kata-kata.

Baca juga:  Jika Aku Layang-layang

2016

Malam Kesembuhan

Kau amsih tidur di pangkuan
Meringkuk tanpa selimut
Mirip bintang yang sesekali
Gemetar hendak menggelepar

Sebelah pipimu jingga langit senja
Sebelah lainnya hangat di kulitku
Cinta mungkin semacam dendam
Yang menyihirmu menjadi kucing manja

Kuelus kau dengan parutan timun
Dan bawang putih. Lalu kucium ubun-ubun
Untuk menumpas hantu cemburu
Yang menyalakan api di nadimu

Kupeluk padam tungku-tungku
Di tubuhmu. Tak ada obat untuk cinta
Selain telanjang, slaing berbagi
panas dan dingin, racau dan muntah

Sepanjang malam-malam kesembuhan
Aku tak tidur, sayang, berjaga menatap wajahku
Pada wajahmu, dan diam-diam kutemukan
Sebentuk raut muasal segala wajah

2016

Jika

JIka kata-kata,
suatu hari,
pergi.

Dengan apa aku
memanggilmu,
memanggilmu,
memanggilmu,

2016

Sumedang

Ternyata aku masih mencintaimu
Sekalipun nyaris tak kukenali lagi
Tubuhmu yang ranum kini melulu
Genangan air mata. Ada banyak
Sangkuriang membendung sungai
Yang merindukan laut, Leluhur
Ditenggelamkan dan kemurungan
Direguk dahaga matahari. Hujan menjadi
Begitu mudah tumpah di sekujur
Tubuhmu. Bukit-bukit teriris dan
Melengking. Berjatyuhan ke pusarmu
Dan tertutuplah jalan menuju rahim

Namun aku masih mencintaimu
Rumah tinggal remah di lidah tanah
Kugali sisa-sisa sajak masa remaja
Di telapak kakimu. Kutemukan puing
Sirine kegilaanku di masa silam
Yang kini menjerit-jerit dari bibirmu
Matamu masih melesatkan tarawangsa
Namun tak kutemukan lagi kerudung
Kabut, betapa tipis dan rapuh rambutmu
Mirip pohon keyakinanku yang kapan saja
Bisa gugur dna jatuh menimpa diri sendiri

Baca juga:  Hikayat Jamarun - Di Situ Panjalu - Di Dada

2016

Kabel

Orang-orang menggali tanah. Mencari
kabel bahasa yang putus, orang-orang
sebelum mereka telah menanamnya
dengan rahasia.

Entah di mana dan pada kedalaman
berapa meter. Mereka menggali
setiap halaman rumah, seperti sedang
membongkar makam.

Makam yang snagat panjang. Mereka bekerja
siang malam hingga kabel-kabel
dalam tubuh mereka pun putus
lalu jatuh dalam lubang

Kami memandnag mereka
sambil meraba kabel dalam diri kami.

2016

Pada Akhirnya

Ingin kutulis namamu dalma puisi
seperti seseorang yang memanggil
sunyi di gelap sebuah goa

Berulangkali patah dan gugur
tak pernah utuh. Namamu
tumbuh lalu kuhapus dengan airmata

Pada akhirnya sellau kutulis nama sendiri
dari sisa-sisa huruf yang bergelimpangan
menggelepar dlaam tubuh

2016

Darah Tanah

Di punggung kami
sungai meluap
ke sekujur tubuh

Di wajah kami bukit berhamburan
mengubur kepala.

Baca juga:  Potret Pengemis

Nama-nama
yang hanyut dan tertimbun

Adalah nama kami.
Nama kami.
Darah dari tanah.

2016.

Penjual Tambang

Aku bosan dengan tambang
Yang kau tawarkan setiap pagi
Dari luar pagar. Tapi di sini ada mawar
Selalu mekar setiap kali suaramu
Pecah di udara pekaranganku

“Hidup itu sekali-kali mesti dijerat
Diseret dan digantung.” Kata-katamu
Menyiram leherku. Kelopak terbuka
Aku menghirup mawar yang rekah
Melata di sekujur tubuh. Kau kesal

Menjerat leher sendiri melempar
Ujung tambang ke langit. Seekor burung
Menarikmu perlahan, tergantung menjauh,
Sementara aku asyik memetik mawar
Dalam darah. Tak peduli kau mati tercekik
Sebab esok pagi kau akan datang lagi
Menawarkan tambang dari luar pagar

2016

Toni Lesmana lahir di Sumedang, dan kini menetap di Ciamis, Jawa Barat. Ia menulis puisi dan prosa. Buku kumpulan puisinya berjudul Karinding Pananjung (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Toni Lesmana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 26 November 2016