Bandung, 2016 – Lagu Musim Sunyi

Karya . Dikliping tanggal 18 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Bandung, 2016

Ada kesenyapan yang asing
di kota tempatmu tumbuh beranjak
menjadi kupu-kupu dewasa.
Langit dan maghrib berkelindan,
jalanan menjelma sungai cahaya,
dalam pelukan musim yang dingin dan muram.
Ada sepatah ucapan “selamat tinggal”
yang ingin namun tak sanggup kuucapkan.
Ada nyeri yang tak tertafsirkan
bermukim di degup jantung yang temaram.
Di jalan pulang, kucatat sunyi ini kembali
yang berkisar antara bayangmu
dan kota yang kian balam.
Di jalan pulang,
di antara muram lampu jalan dan kendaraan,
kusembunyikan rindu ini kembali,
meninggalkan jejakmu jauh di selatan.

Baca juga:  Mahar Pengantin - Tentang Muserang dan Kado di Suatu Malam - Koade yang Menyerupai Bingkai Senja - Perawas

Lagu Musim Sunyi

Musim yang sunyi
Musim yang sunyi,
Langit tenteram di dini hari.
Kau berkata, “tiba waktunya untuk kembali,”
entah kepada siapa.
Fajar jauh. Cahaya jauh.
Angin Juni melintas di beranda.
Dan kau masih terjaga,
menafsirkan impian dan keresahan manusia
dia ntara keheningan kata-kata.


Dimas Albian lahir di Jakarta, 2 September 1992. Kuliah di Jursan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bergiat di organisasi Pojok Seni Tarbiyah.. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dimas Albian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 18 Desember 2016