Buruan – Gending Gunung Andong – Hotel Plataran – Rokok Jokpin – Kopi Jokpin – Kalajengking – Uborampe

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Buruan

konon, di situ, tepat di sebelah tembok makam, setelah berhari-hari
kemampul dipanggul ili kali, serupa yunus ia bangkit dari perut
bangkai kerbau, ia lihat sekeliling: alam perawan dan
bayangbayang pertempuran, ia berpikir, apakah ada yang
lebih penting, lebih genting, yang tersisa dari pelarian, antara diang klaras dan
getar rasa lapar ia lihat kelebat senyum seseorang di remang
kenangan tapi ia tak lihai menangani melankoli, ia buang kerisnya,
satu-satunya kawan setia, jadi tanda di gerbang pagar rumah.

supata: telah kubabat sulur-sulur liar pikiran dengan tangan kosong
belepotan kesabaran, kudirikan tiang jati kunaungi sejengkal
lempung benih kampung. lindung. lindungi. lindung.

2016

Gending Gunung Andong

benang-benang angin bundel-jireti ranting-ranting menggoyang-
gunting daun-daun kering, terpelanting, terombang-ambing,
terbanting. hening bening pecah di bibir batu. dingin membiru di
kukuku

Baca juga:  Sesudah Tsunami - Di Suriah - Di Musim Pemilu - Di Sebuah Pagi

Magelang-Sidoarjo, 2016

Hotel Plataran

Pagi sebelum tampak matahari, pucuk-pucuk gerumbul pinus
serupa setupa, kabut tipis meroncenya jadi gerigi tangga ke puncak
stupa utama. centhini telah pergi, mungkin mati, mungkin hanya
usai, tapi tuannya terus saja mendaki, mendaki napasnya sendiri.

Magelang-Sidoarjo, 2016

Rokok Jokpin

jarum itu dihisapnya sekaligus menghisapnya, asap seputih kapas
serupa napas memenuh di bilik jantung, sesak, berdesak, berontak,
menggetar sulur senar saraf otak, gemuruhnya serupa kata-kata
dalam sajak: putih dan kuning itu telah moksa dari cangkang
telurnya serupa udara, ada dalam tiada.

Baca juga:  pengembara - wali - ada saatnya - bahagia - proses - duduk - masa lalu - bertanam

Magelang-Sidoarjo, 2016

Kopi Jokpin

semalaman ia cangkrukan  —  ngopi semorong dan ngudut
berbatang-batang. berjibaku dalam diskusi panjang tentang puisi
dan masa depan di hiruk-pikuk hari-hari buruk — hanya bersama
pikirannya.

Magelang-Sidoarjo, 2016

Kalajengking

pemahat itu melihat
penghuni celah batu mangap

capit siap menyengat
meracun kulit jangat hingga rengat

waktu itu kau
menungging

pasrah yang menumbangkan
diri jati

hawa ini dari mana sumbernya
kala hari tiada bulan dan matahari

angin yang jahat
bunyi yang laknat

utekmu
utekku?

kita hanya debu
mainan abu

2016

Uborampe

/1/
kelopak-kelopak kembang
dan daun-daunan serupa sajadah
di ujung ranjang

di halaman
jalan masih membentang

dan sepasang kepala hanya menunduk

/2/
hujan terus menerus
menggerus suara dengus
selembar tanda kabung terbiar
lupa diturunkan

Baca juga:  Kampung Oloran 1 - Kampung Oloran 2 - Kampung Oloran 3 - Kampung Oloran 4

/3/
seseorang telah pulang
kosong jadi rumah
waktu bocor
serupa tusukan-tusukan hujan

/4/
waktu serupa udara
tertawan membran
menunggu letusan
semburat membentur dinding
luruh jadi debu

2016

F Aziz Manna lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 8 Desember 1978. Buku puisinya, Playon (2015), mendapat Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Ia bermukim di kota kelahirannya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya F Aziz Manna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 3 Desember 2016