Jakarta

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Jakarta

Sejak pertama berjumpa di jalanan kau adalah penguasa
Malam langit tak gelap seperti senja di venesia
Siang terik menusuk kulit merasuk di pori memcah peluh
Polusi-polusi liar menjerat udara segar menghirup racun.
Kau adalah kelamin. Syahwat bejat memuaskan nafsu
Kau adalah perut. Tamak serakah tak pernah kenyang
Di pojok kota aku melihat orang miskin kelaparan
Makan dari sisa-sisa makanan tikus brengsek
Bocah baru lahir harus menghirup bau busuk
Dari got-got kotor dan sampah basah.

Baca juga:  Lelaki yang Terjun Bebas dari Puncak Tower

Aku berjumpa pria berjubah putih ketika senja
Masih ada orang sunci? Oh, mentropolitan
Dari depan punggungny aku masuk  masjid
Tuhan, tempat apa ini? Di mana ini?
Aku mendengar riuh gaduh
Aku melihat perempuan seksi
Aku mencium bau anggur
“Keluarlah! pemuda penuh dosa”
Apakah tidak ada pengampunan hari ini?
Apakah tuhan tidak ingin menemuiku?

Aku kembali berjalan bersama malam
Melalui diskotik dan pelacuran
di pojok jalan dekat gedung tua
pria paruh baya memikul sampah
“tuan, bolehkah aku menginap di sini?”
Aku melihat banyak botol minuman keras
Ada mushaf, salib, dupa, dan patung sidarta
Tak peduli. Aku hanya menunggu fajar tiba
Ketika mata hendak menutup dirinya
Pria itu meletakkan keningnya dan mencium tanah
sekarang mengertikah, tuan…

Baca juga:  Menghadap Makam - Bekal Kunjungan - Di Depan Dermaga - Di Atas Kapal


M Aroka Fadli lahir di Subang 29 Mei 199, bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta. Pendiri Komunitas Bacalima.        .

Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Aroka Fadli
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 9 Oktober 2016