Zikir Renjana – Jalan Makrifat – Alamatulhayat

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Zikir Renjana 

mata terbuka sebagai jendela #
mengabarkan takjub napas terhela
tercipta angan mirip nebula #
terbitlah kata serupa gula
terus mendesak menjelma ingin #
sutra bisikan selembut angin
masih terdiam di bawah ringin #
terlekap di dalam musim dingin

engkau berada di lain kubu #
kita
senapas memintas tabu
 golak ruang menjadi gebu #
terhisap lezat dalam rabu
ganda wangi tubuh terhidu # tak
habis habis nyanyi rindu
menambang alir khasanah madu #
mabuk semesta terlekap candu
kau, aku menuju perseteruan #
kita dalam laku persekutuan

Bekasi, 2014 

Jalan Makrifat 

kelahiran membuka pintu #
penyebutan pada namamu
darah mengalir dengan deru #
membawa bayang bening kalbu
waktu menarik garis salam # umur
bertarung terang kelam
bulan terus timbul tenggelam #
tahun menyimpan gema kalam

Baca juga:  Turangga Matahari - Lingsir - Gerimis Kepagian - Penunggu Musim

membaca perih larik ayat #
membayangkan saat sekarat
mengeja arah gerak hayat #
memutar ke hulu hakikat
menanam benih penyerahan #
meniti tangga keyakinan
rindu jadi pengetahuan # dan cinta
kebahagiaan

zikir mencipta nyala api # bakar
segala keruh diri
merasuk detak amsal nyanyi #
dalam kubangan wirid sunyi
telah lenyap timur dan barat #
lebur dalam putih tirakat
yang ada hanya satu kiblat # kekal
pada jalan makrifat

Jakarta, 2016 

Alamatulhayat 

bermula dari lirih doa # mengetuk
langit rahasia
terucap di mulut sepi # menjelma
serabut mimpi
tangis dan tawa adalah bahasa #
mengekal di dalam tubuh usia

terikrar ketika nutfah # kelak
menjadi khalifah
lapar dahaga mesti dieja # musim
menyulut jiwa bekerja
bukan lagi timur dan barat #
melebur dalam puja niat

Baca juga:  Rebana dan Serunai - Roti Beraroma Kopi - Janabijana

merasuk kepada pucuk malam #
melepas diri ke kalbu alam
khidmat iradat sungai dada # laut
berkah bagi semesta
renik rasa tekun membaca #
memberi adalah cahaya

Jakarta, 2014 


Bunga Tasbih 

senja membuka pintu malam #
derap hari mulai tenggelam
sunyi mengisi gelas waktu #
mengembun di lingkaran haru
perasaan merindu taman # datang
bayang sesosok hutan
pepohonan rapat berdiri # setapak
jalan tersembunyi

keharuman menyerbu batin #
seribu risalah terjalin
mengeja sekumpulan ayat # nurani
menggelar hakikat
mawar merah dan
mawar putih #
dijadikan untaian tasbih
merapal rindu dengan getar #
wajah langit menyingkap cadar

Baca juga:  Malalayang - Bahu - Minggu Pagi di Pineleng - Epitaf - Terdampar di Muntok

masih jauh dari jamahan # makin
dekat pada ingatan
kelopak dan tangkai terayun #
melambai tanya warna daun
pawana pun meniup kencang #
sesekali batang bergoyang
gigih cinta terus bertahan # di
pokok akar keyakinan


Jakarta, 2016


Budhi Setyawan, Lahir di Purworejo,
Jawa Tengah, 9 Agustus 1969. Penyuka
musik rock dan jazz. Mengelola komunitas
Forum Sastra Bekasi (FSB).
Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya budhi Setyawan

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 4 Desember 2016