Aku Bukan Milikku – Tanpamu – Bahasa Kalbu – Meruncing – Bermandikan Cahaya – Bersandar

Karya . Dikliping tanggal 9 April 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Republika

Aku Bukan Milikku

Aku bukan dirriku
Aku bukan milikku
Aku bukan kuasa diriku
Aku hanyalah aku
Aku wadah kosong untuk
Sang Maha-Aku
Aku jadikan aku kaki-Mu
Aku jadikan aku hidung-Mu
Aku jadikan aku mulut-Mu
Aku jadikan aku telinga-Mu
Kini aku Menyatu bersama
Sang Maha-Aku

7 November 2010

Tanpamu

Tanpa-Mu kebaikan ‘ku palsu
Tanpa-Mu sedekah ‘ku sia-sia
Tanpa-Mu ‘ku sombong
Tanpa-Mu ‘ku angkuh
Tanpa-Mu ‘ku maksiat
Tanpa-Mu kotor lah diriku
Tanpa-Mu ‘ku tersesat
Dalam gelimang dosa dan noda
Terseret dalam gelombang kehidupan
Ku habiskan waktu dalam kegelapan
Di ujung penderitaan akhirnya yang kudapat-
kan
Tanpa-Mu Mengerikan ilahi
ENGKAU-lah sumber kebahagiaan sejati
Yang dapat ‘ku temukan di dalam diri


Juli 2014


Bahasa Kalbu

Ku berbicara dalam bahasa kalbu
Ku bernyanyi dengan irama merdu
Musik keindahan bergenderang di dalam
dadaku
Setia mengiringi perjalanan hidupku
Untaian nada-nada sambung sambung menyambung
Menjadi irama indah nan keabadian
Terasa penuh makna terdalam
Abadi sampai akhir zaman
Tak lekang oleh waktu
Terus bergema di relung jiwa
Setiap insan mengharap kehadirannya

Baca juga:  Jangan Mencari Tuhan Di Hutan - Agama - Musuh - Kapitalis

Wahai pujaanmu
Maafkan kesalahanku
Ku telah sia-siakan
Kebahagiaan yang telah Kau berikan
Dunia dengan segala isinya
Wahai pujaan
Tambatan jiwa
Lantunan musik merdu-Mu milikku
Tiada nada indah selain musik-Mu
Pujaan ku irama-Mu
Membuat gemulai jiwaku
Menari-nari dalam kelembutan napas-Mu

Desember 2016

Meruncing

O kekasih
Meruncing landasan kalbu
Tombak panah bukan dunia
Menajam kalbu fana
Pedang bukan dunia
Bukan fatamorgana
Nyata dalam dunia luar baisa
Aku fana
Fana dalam-Nya
Kekasih tak ingin Kau pergi
Tak mengharap selain-Mu
Lembut waja-Mu
Membujur tubuh dalam getaran-Mu
Tercabik dadaku
Terporak poranda karena-Mu

Baca juga:  Getik Ikan Bethik - Getting Ikan Keting - Sekat Ikan Sepat - Seser Ikan Bader - Lekuk Ikan Kutuk - Pepaya

27 Desember 2010

Bermandikan Cahaya

Bermandikan cahaya
Bertaburan gemerlap-Nya
Bintang bukan dunia
Bulan bukan dunia
Matahari bukan dunia
Berpakaian mahkota
Minum anggur dari cawan-cawan emas
Mendnegarkan senandung surga
Dalam suka cita bukan dunia
Luar biasa tanpa rasa
Tanpa cipta tanpa udara tanpa raga
Tanpa sukma
Tanpa tapi segalanya
Nikmati bukan dunia
Tiada tara
Cinta bukan dunia
Pesona bukan dunia
Pesona mahligai-Nya

O tak dapat diucap dengan bahasa
Bahasa bukan dunia bahasa
Diam membisu berjuta rasa
Rasa bukan dunia
Bidadari menari pelipur lara
Senandung seruling terompet biola
Bukan dunia
Senandung indah

26 November 2010

Bersandar

Diri tiada berharap selain-Mu
Diri tiada bersandar selain-Mu
Lelah kuberharap selain-Mu
Cukuplah Engkau tumpuanku
Takkan kecewa diriku

10 April 2012


Mira Achiruddin dilahirkan di Palembang, 19 Juni 1965. Ia anak keenam dari delapan bersaudara. Ibu seorang putri remaja ini sehari-hari mengelola bisnis bersama dengan saudara-saudara kandungnya. Ia mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SMP, tetapi baru mulai ia tampilkan di hadapan orang lain sejak tahun 2009. Sampai saat ini ia telah menulis lebih 300 puisi. Semuanya merupakan puisi spiritual atau sajak sufi. Ia lebih suka menyebutnya “puisi panggilan jiwa”. Bukunya yang sudah terbit adalah “Nyanyian Sufi di Lembah Suci” (2017).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mira Achiruddin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu, 9 April 2017