Ngilu – Menyelam – Bara Buah Terlarang

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Ngilu

gerimis turun dari pelupukmu
ngilu seluruh persendianku

VIBA-2017

Menyelam

kau duga aku terbang meninggalkanmu
padahal aku terjun menyelami lautmu

VIBA-2016


Bara Buah Terlarang

kapankah halimun likat akan susut?
dan apa yang akan terjadi sehabis itu?

bahkan para pakar cuaca belakangan
kerap kecele. terkaan dan ramalannya
kerap meleset. apalagi orang seperti kita
apalagi halimun ini bukan halimun biasa

orang banyak ingin kenal segala isi dunia
orang banyak ingin paham setiap peristiwa
ujungnya banyak dari mereka dicengkram
kecewa, gundah, dan marah pada dunia

kita memang mustahil kenal segala. mustahil
paham setiap peristiwa. bahkan kenapa sampai
kita bertemu dan lalu menempuh malam hingga kini
kita duduk di sini, ini saja cuma secuil kita mengerti

mungkin lebih baik seperti pinus-pinus itu
tak satu pun dari mereka beringsut seiinci pun
selikat apa pun halimun selalu mereka sambut
remang dan dinginnya mereka resapi selalu

Baca juga:  Inilah Kisah - Di Depan Kursi Yang Mengahadapmu - Perkenalkan Aku - Harapanku

”tapi kita bukan pinus. kita lelaki dan perempuan,”
katamu pada dini hari di saung beratap rumbia

”pinus pun berkelamin. ada betina dan jantan,”
timpalku sambil menaruh buah pinus di gundukan bara

”tapi tetap saja pinus-pinus itu tak bisa bergerak.”

”bergerak tak mesti berarti fisik berpindah. orang
bisa melanglang buana dengan tetap diam.”

”untuk apa bisa melangkah? untuk apa tubuh?”

aku tak dapat menerka asal dan arah kata-katamu
namun terdengar rahangmu gemeretuk. bibirmu
gemetar. dan matamu seminau memercikkan silalatu
aku sendiri diam-diam dirasuk ingin beringsut
terlebih saat menghidu harum mawar dari napasmu

”maksudku dengan pinus-pinus itu kita pun seperti
mereka. kita sambut halimun likat. kita olah dingin
dan remang. kita jadikan sesuatu yang bikin gigil
raib. kita jadikan begitu dalam bahasa tanpa bunyi
membentuk kata, bahasa ibu perempuan dan lelaki
bahasa purbawi dan surgawi,” ucapku dalam hati

Baca juga:  Surat untuk Tegal - Dalam Dzikir Rinduku - Senja di Bulu Matamu

”apa di saung ini, selain dari bara buah pinus ini,
tak ada kehangatan lain, tak ada panas lain?”
tanyamu tiba-tiba memecah senyap seraya
mendekatkan dua telapak tangan ke merah bara

”ada,” jawabku spontan.

”ada? dari mana itu?”

”bara buah terlarang.”

”nah itu. kamu tahu. kamu pun tentu tahu
kita bukan di surga. kita dalam pekat kabut
yang bisa bikin kita sekarat dan membeku
maka tidak ada buah yang terlarang. kita pun
tak akan diusir dari surga seperti pasangan itu.
diusir pun tak apa asal terus bersama kamu.”

”serius?”

”ya.”

”serius tidak ada buah yang terlarang?”

tanganmu menarik syal yang melilit leher
juga membuka kancing demi kancing jaket
lengking ajag tiba-tiba mencabik hening
engkau sontak melompati bara seperti kucing

Baca juga:  Taraji, Oh Taraji

mentari rekah di balik bukit. hangat merambat
merasuki setiap pori-pori. terlebih ketika kita
saling mendekap. bibir kita saling melumat
tapi kemudian kembali kita disergap tanya

kapankah halimun likat akan susut?
dan apa yang akan terjadi sehabis itu


VIBA-2017

Hikmat Gumelar tinggal di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Selain menulis puisi, dia juga menulis cerpen, esai, dan drama, serta mengelola Institut Nalar Jatinangor. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hikmat Gumelar 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 23 Juni 2017