Do’arius – Stasiunes – Language – Brukoh

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Do’arius 

aku selalu belajar berdoa
semoga segala sesuatu dalam kepala
tidak terbuang sia-sia.

aku membayangkan ia adalah bahasa
berlarian dari pelosok desa hingga ke tengah kota
menangkap luka kemudian disesatkan ke dalam prosa.

aku sempat juga membayangkan ia adalah tokoh cerita
yang suka membaca sajak-sajak cinta seperti Pablo Neruda
sebagai saksi bahwa ia bagian dari makhluk gagal-tinggal di dunia.

Stasiunes

kenyataan dalam hidup hanyalah kematian
kematian adalah makhluk paling terkenal paling dikenal
padahal ia hidup hanya dengan satu pengetahuan;

Baca juga:  Seusai Perang Besar

”mencabut nyawa dari badan”

Language 

jika sesuatu ketika bahasa mampu menjadikan kau bahagia
pasti di suatu ketika yang lain kau bakal dibuat sengsara;
”olehnya”

Malam sabtu, 22 Juli 2017, Yogyakarta

Brukoh 

adalah ruang bermain
di mana sebuah siang diciptakan
sebuah kenang dinyalakan.

dari utara payudan mengucap salam
dari selatan tanodung memisah lautan.

aku pulang pada mereka
sebelum dan sesudah mengenal air mata
sewaktu musim hujan dan kemarau menjadi sama.

Baca juga:  Episode Burung-burung - Baluran - Syair Ikan Gabus

dari atas kepala matahari dinyalakan
dari dalam dada kerinduan dikobarkan.

setahun lamanya aku berpisah
menjemput nasib ke pulau entah
menunggangi kapal pasrah.

dari kalimat bismillah aku memulai
dari kalimat alhamdulillah aku mengenal sampai.

Malam sabtu, 22 Juli 2017, Yogyakarta

*) Sengat Ibrahim, Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2]Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 13 Agustus 2017