Semarmesem – Nella Kharisma – Nelka

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Semarmesem

: Nella Kharisma

(1)


la-yumitu haíillah
tak ada tanda yang dapat kubaca!

mari kita goreng mantra-mantra pengasih
gheluy bersama air liur anak yatim.

sebelum lelaki melafalkan dusta
dalam menawarkan cinta pada setiap wanita.

sebelum kegilaan sulaikha
benar-benar tercipta untuk kedua kalinya.

setelah januari tirakatkan rahsianya
pada penghujung kalender, bulan (desember).

kau bilang, kembang semar mesem
bermekaran di bulan ini.

karena kembang semarmesem
tumbuh bukan pada sembarang bulan.

bukan pada sembarang pekarangan
bukan juga pada sembarang gagang.

harumnya, seharum gairah penganten pertama
bermekaran tanpa kuncup, tanpa selaput.

(2)

nella, mantra apa yang paling licik
ketimbang mantra pengasih, kekasih?


hujan memang telah lama menyalami
rukuk tetumbuhan di halaman rumah.

Baca juga:  Kepada Selembar Sirih pada Hidung Anak Mimisan - Dupa Ketujuh - Obituari Dusun

tetapi alamat bunga itu belum aku ketaui
maka dengan bismillah kucari.

karena bisaku hanya mencari
mencari letak kembang semarmesem.

mulai dari tempat yang biasa aku tempati
tetapi yang dicari tak kutemui.

aku membolak-balik meja
membanting toples, cangkir, piring.

dan semua perabot-perabot dapur lain
hasilnya tetap sama, tak ada.

(3)

nella, aku lelah dalam pencarian ini
karena sudah lelah aku mencari celah

yang mampu mengajari tidak kalah
atau menyerah pada kelelahan sendiri.

tiba-tiba celah kelelahanku
membangun bukit kembang yang kucari.

Baca juga:  Sangkuriang

aku potong batangnya
aku titipkan kelelahanku pada keharumannya.

kunfayakun, serbuk kembang semarmesem
aku tanam tepat di jantungmu.

berharap dipengujung cerita kita
kembang semarmesem bermekaran sebagaimana biasa.

bermekaran seperti apa yang kuminta
bermekaran dalam bahasa.

Yogyakarta, malam Senin 21 Mei 2017

Nella Kharisma

nella,
cinta tak perlu diberi tahu kepada siapa menuju.

kalaupun diberi tahu
ia akan lebih tahu dari (si) memberi tahu.

Yogyakarta, malam Selasa 22 Mei 2017

Nelka

aku takut pada puisi
karna puisi tak mengenal kata permisi
untuk sesuatu yang datang dan pergi.


Yogyakarta, malam Selasa 22 Mei 2017

Sengat Ibrahim, pemangku adat literasi dan taman baca masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep, Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Kini tinggal di Yogyakarta. Karyanya dimuat di media cetak dan dalam jaringan. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 20 Agustus 2017