Tragedi Kampung Janda, 1983 – Peta Masa Silam, 1975 – Indeks Salah Catat, 1998 – Berseluncur dalam Dongeng

Karya . Dikliping tanggal 10 Desember 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Tragedi Kampung Janda, 1983

Di Krakas, langit semendung hatimu
saat suamimu dihajar peluru,
dan ayahmu terperangkap nyala api.

Sementara udara Agustus
satu-satunya pakaian perkabungan
ketika pijar merah meletup dari kepala

dan dada anak laki-lakimu, atau
popor senjata meninggalkan surih
di antara parahmu, jadi jalur

sunyi monumen tanpa pemuja.
Tapi di tempat terpencil begini
kau hanya bisa teriak atau

terisak gemelugut. Tak ada yang
akan menyelamatkanmu, mengingatmu,
atau menginventaris nama anak laki-lakimu

pada catatan kaki sebuah buku panduan
kemanusiaan – sekadar ucapan belasungkawa.
Antara ranum buah ampupu di Bibileu

kau arak sisa ingatan, sembunyi
dari aroma mesiu, pekat asap, dan
gelegar hijau — mengubur masa lalumu.

Sesekali kau terpaku, kabut merayap
di matamu, ingat saat mereka seret
tubuh laki-laki di kampungmu

Baca juga:  Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono

umpama sampah dari sebuah sejarah
hingga bau sangit, anyir darah, atau
jumlah tengkorak, semata pengingat.

Dan mereka menyebutnya, pembalasan!

2017

Peta Masa Silam, 1975

Sebab takdir menjelma
laung seekor gagak
menaksir hayatmu
di tarikh almanak.

Peta silam pun digulung
jarum firasat ditenangkan
berpalinglah penantian
dari tepi pesisir itu.

Mereka telah menyiapkan
riwayatmu di tumpuk batu
bersama makam kosong
sebagai duka yang hampa

Hingga tutup matahari
awan mendung serta air mata
dan doa yang lelah adalah
bunga melepas tangkainya.

Sahajanya jarak
adalah maut itu
berbentang selat
dan seperdua abad.

Kau pasti muskil percaya
takdir pula yang membuka
gulungan masa silam
peta yang buram itu.

2017


Baca juga:  ApoCalypso

Indeks Salah Catat, 1998  

/1/
Tanganmu tak cukup cekatan
menghapus nama putramu dari
halaman indeks buku sejarah.
Suaramu juga tak senyaring
mesin sedot debu di gedung
pemerintah, rapikan sobekan
arsip dari ruang bawah tanah.
Kau masih saja bertanya,
“Di mana anak-anak kami?”
meski langit kamis selalu sama
dua dekade simpan rindu
bagai sepotong tali di lehermu.
/2/
Tubuh mereka teridentifikasi
dalam pose kejang saat tinju
sekuat palu menghantam perut
garis sayat merias pelipis
otot-pitam satu-satunya hiburan
dari efek linglung sebelum butir
peluru jadi bonus tiket kesunyian.
Nama-nama jadi kabar burung antara
berkas kerja dan pidato penuh melankoli.
2017

Berseluncur dalam Dongeng

Dongeng timbul dari alkisah gua
julurnya kira-kira seekor melata.
Gadis kecil rebah di ranjang
dielus kulitnya sambil dibisiki.
Dalam tidur ia sudah ditelandongeng
ia meluncur bagai di lorong usus.
Mencuat dari buntut dongeng
ditadah keramaian antah-berantah.
Ia pangling bertemu wajahnya
di bermacam badan dan usia
Semua lalu mengenalkan muasalnya
dari zaman silam hingga masa depan
2017

Yona Primadesi lahir di Padang, Sumatera Barat. Saat ini, ia aktif dalam kegiatan literasi untuk anak. Buku puisi pertamanya adalah Percakapan di Beranda (segera terbit).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yona Primadesi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Sabtu 9 Desember 2017