Harum Tubuh Penyair – Jiwa-Jiwa Tersepuh Embun – Kalau Ada Waktumu – Ini Senja Entah Keseribu Berapa – Laut Kehilangan Debur

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Harum Tubuh Penyair

Jika pagi ini engkau hanya bisa melihat jejakku
di pasir pantai Nusakambangan
itu berarti engkau masih bisa sedikit mengenangku
masih bisa menatap buih yang memecah
sebab aku telah melaut jauh dengan sampanku

: ìHarum tubuh penyair tidak mudah untuk dilupakan
    tetapi bisa teramat pahit dan getir!î

Jaspinka, 21 April 2017 

Jiwa-Jiwa Tersepuh Embun

Serupa angin yang turun dari lembah
Embun selalu mengalah
Biarkan gemeresak yang menampar-nampar
segala dedaunan yang mengering
lalu lepas dari tampuknya — sebersit
ada rasa salah dan kehilangan!

Dan kita telah begitu jauh meninggalkan lembah
Untuk apa lagi kaukenang seluruh kabut
Seluruh gigil yang menyakitkan itu
: ìJiwa-raga tersepuh embun yang turun
sepanjang debar sepanjang perjalanan!î

Baca juga:  Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan

Sekarang kita telah sampai di laut
Memaknai dermaga sebagai mula membelah selat
Dan seterusnya adalah memecah gelombang
Memeluk karang-karang!


Jaspinka, 19 April 2017 

Kalau Ada Waktumu

Kalau ada waktumu, saksikanlah
Kelelawar yang terbang dari rimbun pohon sawo
Memecah kelam malam
Menyempurnakan geletar dukamu
dan di pohon mahoni burung hantu berkauk-kauk

: ìAku berbagi nasib dengan kabut embun
yang perlahan turun membalur segala daun
hidup kian mengental harum mawar
dan air yang mengalir di kali
bening dari hulu ke hilir
begitu tenang mengekalkan sajak-sajakku!î

Jaspinka, 16 April 2017 

Ini Senja Entah Keseribu Berapa

Ini senja entah senja keseribu berapa
Jatuh kemerahan sepanjang lekuk usia

Baca juga:  Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso

: ìIni sesayat hati bagimu, jangan kaubakar
Apalagi kaululuhlantakkan!îCiah!

Jaspinka, 15 April 2017 

Laut Kehilangan Debur

Laut kehilangan deburnya, entah sampai kapan
Menghilang entah ke rimba mana
Entah ke kota mana, Elly, seperti murca
Hanya serat kenangan mengurai labirin senja

ìOu, laut, laut itu, lihatlah, ombaknya menggunung
  menghempas tebing-tebing karang!î

Karena ia laut, ia adalah air
yang berdebur sepanjang masa.

Sejauh engkau meninggalkan laut
Debur dan derainya masih terngiang?

Baca juga:  Andai Kau Laut - Sebongkah Imaji - Melayari Alun Gelombang - Melayari Alun Gelombang - Kau Menjaga Air Mata - Sepenggal Sisa Mimpi

: Kautepiskan butir pasir yang menempel di gaunmu
  Air matamu tetes
  Ada ribuan anak panah menusuk senyap hatimu

Alangkah sedih, ternyata engkau hanyalah
Gelombang laut yang tidak dikunjungi orang!


Jaspinka, 13 April 2017 

Eddy Pranata PNP, sejak 2004 mengelola JaringanSastra Pinggir Kali (Jaspinka) Cirebah, Banyumas.(44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 7 Januari 2018