Langkah Waktu – Sepotong Doa yang Belum Tumpah – Sungai di Dadaku – Mengasah Usia – Sepucuk Kenang – Jenjam

Karya . Dikliping tanggal 25 Juni 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Lampung Post

Langkah Waktu

Sebelum langit terpaku
Hening bertapa tanpa
Bertukar gemuruh seru
Menabur hujan doa
Di sisa usia

Surabaya, 22 Mei 2018

Sepotong Doa yang Belum Tumpah

Masih tentang kau yang ku-
inginkan

Untuk melepas masa dingin ini
Terus begini hingga jari-jemari
Tanganku berhenti membeku
apa yang membuat
kita bertahan dari kesedihan?
Jendela waktu
masih saja terbuka
dan menyuruh

kau mengintip kesebuah tunggu
teruslah seperti ini,
senja hanyalah cara menguji
seberapa tabah kau mencintai

Surabaya, 23 Mei 2018

Sungai di Dadaku

Kau adalah sungai yang menga-
lir dalam kepala

Melekuk dan berjalan mencari
muara paling sunyi
Seperti akar pepohonan yang
tak jua jawab
Sebab jatuhnya dedaunan
meragukan;
Hingga dingin menyudutkan
pada sebuah kehampaan
Kau sungai dalam dadaku
Membanjiri hingga sesak tanpa

Baca juga:  Jalan Pedang - Bunyi Pedang dan Janggut

Kata tanpa frasa, hingga puisi-
puisi kita terpenjara

Dalam udara,
Kau masih saja seperti sungai
Yang ingin bebas meski jalan tak
menunjukkan pangkal
temu yang hanya semu
masih kau jelajahi hingga
musim-musim sepi

Jombang, 4 Juni 2018

Mengasah Usia

Sejak saat itu kau minum air
mata
Seperti menyantap nasi yang
kutanak
Tiap pagi. Tak ada yang bertanya
Musabab kau meruang dalam
diri
Segala sudah sangsai lebih dulu
Sesak seolah hujan dalam dua
musim
Hingga tak berujung ufuk
Kau masih minum air mata
Dari sumur pagi hingga kanal
senja
Bertanya pada siapa lagi,
Jika kau terus mengaduk kopi
Tanpa sepatah kata. Hingga
ampasnya
Habis dalam secangkir air mata

Baca juga:  Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis - Aku, Istri, dan Anakku Menatap Senja dari Atas Loteng

Jombang, 4 Juni 2018

Sepucuk Kenang

Kau sudah tenggelam
Dalam puisi-puisi yang tak
terucap
Dalam rindu yang usai
Sebelum malam cemburu
Melihat kau menggerutu
Kau adalah kenang

dalam gerbong kereta
Yang melewati kota-kota
sepenggal masa
Kau hanya lampau
epos-epos luka yang hampir
kering
saat senja akan pulang

Jombang, 4 Juni 2018

Jenjam

Puisi kecil dengan rekah
semangat di bibirnya
tumbuh di jantung jantung desa
menggerus kecemasan yang
memaku
dingin kelambu kamar
puisi kecil dengan diksi sarat
makna
melewati ceruk detik berebut

sampai
menebas batas-batas negara
seolah bola api menggelinding
tanpa roda
puisi kecil yang melewati musim
pancaroba
menyuling ketentraman yang tak
sadar dari lelap
membawa yang hilang di kubur
waktu
hingga segala jadi satu;
bertukar wicara
di tiap cuaca berdebu

Baca juga:  Pakter Tuak

Surabaya 24 Oktober 2017

BonekaAnggi Putri, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Komite  Sastra Dekajo (Dewan Kesenian Jombang). Tulisannya dimuat di sejumlah media.

 

[1] Disalin dari karya Anggi Putri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 24 Juni 2018