Malam yang Resah – Surat Pertama

Karya . Dikliping tanggal 11 Juni 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Malam yang Resah

: kenangan 7 hari Tusning Harya Prameswari

pada malam yang resah ini
kugantung rinduku pada bingkai ruang yang
sudut-sudutnya mulai lelah
nak, izinkan aku menatapmu dengan mata hati
selalu pada setiap helaan nafas bahkan ketika waktu
sudah kehilangan detaknya

dulu pada setiap pengujung malam
kuninabobokkan engkau dengan tembang-tembang
harapan
lalu sejurus waktu
ganti engkau yang bercerita tentang
jalan panjang masa depan
takpernah kueja keluhmu meski dalam diam
harimu berwarna senyum
sebelum akhirnya segala mengatup dalam diam abadi

Surat Pertama

: kenangan 40 hari Tusning Harya Prameswari

surat pertama ini kutulis
ketika separuh jiwa masih meraba sisa kehidupan
yang terampas harumnya bunga-bunga yang ditabur
dengan penuh warna menjelang gelap membayang
aku takhendak sembunyi di balik suara-suara
ketika mendaraskan doa
dan tangis sisa kesedihan kemarin

Baca juga:  Di Muka Orang Mati - Kerajaan Kata - Sri Menjahit - Sri Menggunting Kain - Nun - Di Bawah Kelopak Air - Slooterdijk - Penghapal Kitab - Seekor Dingin - Sitor

menarilah dengan seluruh jiwamu
bersenandunglah dengan seluruh keharumanmu
tentu bidadari-bidadari akan menemanimu sepanjang
hari
bersama larutnya jiwa-jiwa yang memerdekakan kemenangan

biarlah aku sendiri yang merasa kalah
terempas dalam pusaran kerinduan yang menghangat

Surat yang Kutulis Malam-malam

: kado kecil ulang tahun ke-18 Tusning Harya
Prameswari

kutulis surat ini malam-malam
ketika gelap sudah menyempurnakan segala
bahkan bau tanah sisa hujan tadi sore
makin mengekalkan khusyuknya
kepakan sayap rindu
yang kian mengekal

dalam surat tak bertinta ini
aku hanya ingin menulis dan berucap
ëselamat ulang tahuní
biar kita berjarak
aku yakin kamu membaca
karena surat ini kutulis dengan dengan cinta
aku tahu kamu mendengar
karena surat ini kueja dengan hati

Baca juga:  Percakapan - Kota Kecil - Rantau Hujan

lihatlah di tanganku ada kado
yang kubungkus dengan wewangian
dan kurajut dengan doa
hari ini mestinya kita berderai bersama
merayakan kehangatan seperti hari-hari lalu
kutulis surat ini malam-malam
dengan senyum karena kutahu
kamu tengah menari bersama bidadari-bidadari
sambil berucap ulang tahunku kini
lebih wangi

kau telah sekian lama menjauh
menggugurkan asa di sela terkikisnya waktu
penantian ini tak akan mengembalikan
renyahnya tawa kemarin
waktu terus mengunci
menyapu tembok-tembok yang sudah kotor
karena kesibukan laba-laba
menganyam sarangnya
sementara di rumah ini
aku tetap menjaga kerinduan
yang tak pernah terwujud

Baca juga:  Taburan Mawar Cinta

kini pagi tlah telanjur menggeser malam
dan aku seperti burung kehilangan sayap

Hari B Mardikantoro, lahir di Magelang, 26 Juli 1967. Dia bapak yang sangat mencintai sang putri semata wayang. Namun Sang Pemilik Sejati ternyata lebih mencintai dan telah memanggil sang anak pulang ke rumah-Nya. Puisi-puisi dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang ini merupakan kenangan untuk Tusning Harya Prameswari. (44)

 

[1] Disalin dari karya Hari B Mardikantoro,
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” 10 Juni 2018