Kalesal – Menanak Bingkai Samudera – Sujalam – Bebaskan Saja

Karya . Dikliping tanggal 3 Juni 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Kalesal

Tak ada kata maaf antara kita
Apakah ini pertanda menuju dewasa?

Cukup ada senyuman
Bahagia dan derita harus disimpan

Malam-malam bersemayam
Menggelar pagi, menunggu ayam berbunyi
Hingga lupa cuitan burung di sela-sela ranting

Menggulung kembali dosa pertama
Melukar lilitan pinta insan-insan
Tapas helai doa nestapa
Sesal tiada putus asa

2018

Menanak Bingkai Samudera

Melepas bujuk dari larinya ombak
Ke sana-kemari terganjal dengki
Batu itu bernama dendam
Tersusun mengeras menjadi karang

Setiap kali air pasang
Mendidihkan ingatan tentang harapan
Menderu deras memecah kegagalan

Baca juga:  Kampung Kayu Kembang - Kampung Batu Tua - Secagkir Kopi Ibu - Perjalanan Pulang - Senyum Nabi

Tungku api bukan lagi mimpi
Percikannya bukan lagi berani
Jikalau arang telah menjadi abu
Butir-butir itu bernama rindu

Tlah datang kepasrahan diri
Tuk terima kembali samudera hati

2018

Sujalam

Menguning bulir-bulir padi
Menunduk enggan menari
Mengikuti setiap arah menuju tanah

Matahari berlabuh ingin meneduh
Kambing-kambing berebut kandang
Menjejali jalan lurus likuan terjal

Suci ialah keabadian,
Menuju penggembala dalam diri sendiri

2018

Bebaskan Saja

Bebaskan saja dirinya
Biarkan memulai, mencoba, dan mencari sayap untuk
belajar terbang

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-2 Juli 2015

Bebaskan saja pikirannya
Biarkan berpikir dan memahami yang sedang
diinginkannya

Bebaskan saja ucapannya
Biarkan bersuara senada dengan tingkah dan lelakunya

Hingga dia paham dengan kebebasan dan mulai
merasakan keterbatasan

2017

Titik Mendua

Pejam mata
Segaris warna
Sejumput rasa

Kelam bintik suci
Terang noda kegelapan

Di balik pandangan, menjulang keluar
Tiga garis senyuman, kerutan tentang sapaan

Berhenti di telaga
Bermuara dalam sikap
Bersila tuk mengisap

Kepulangan
Tanpa penerang jalan
Titik bias dari hitam menuju putih

2018

Athif Thitah Amithuhu, lahir di Bantul, 1995. Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini pernah menjadi redaktur buletin sejarah Sanskerta (2013-2015) dan aktif di Pondok Budaya Kaliopak Yogyakarta (2015-2017). Sekarang dia aktif mengajar di Sanggar Pulokadang. (44)

[1] Disalin dari karya Athif Thitah Amithuhu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 3 Juni 2018