Cintamu Kalah I – Cintamu Kalah II – Cintamu Kalah III – Semoga – Tak Layak

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Lampung Post

Cintamu Kalah I

Apa yang kau harapkan
dari bayangan malam yang membiarkan
air matamu jatuh satu-satu
bertasbih menyebut nama seorang lelaki
yang padanya kau harapkan rindu
cintamu telah kalah, Yume
kalah oleh nyeri yang datang bertubi-tubi
sedang matamu tak sanggup merobohkan
bulan yang padanya cahayamu tak
berpendar

Kampung Tembakau, 2018

Cintamu Kalah II

“Jangan nasehati orang yang jatuh cinta”
katamu di penghujung waktu
“Mungkin, dengan mengingat hal-hal baik
hubungan tetap bertahan”
lain waktu, kau lantunkan air mata
Kepadaku engkau berkelam
mengeluarkan duka berpasang-pasang
dan aku ingin sekali berlari ke depan matahari

bersujud meminta diri
memohon sinarnya yang riang
memusnahkan sihir cintamu biar hilang
agar engkau tahu
lelaki yang takut janji
tak pantas diamini menjadi suami

Baca juga:  Kembalikan Airmataku

Kampung Tembakau, 2018

Cintamu Kalah III

Kalau memang puisi ini
tak mampu menyuruk ke ruang hatimu paling
rentan
semoga kau bisa pahami
menunggu berarti pulang
dan pulang adalah persoalan masing-masing
yang tak memiliki kepastian
apalagi lelakimu penuh kebimbangan
bercampur ragu
seperti cintamu yang keburu dibawa angin ke
setiap penjuru

Kampung Tembakau, 2018

Semoga

Dari Raung hingga Krakatau
syairku tak pernah memukau
maaf
bisaku hanya membawa bait-bait sajak
sebagai bekal doa kakimu berpijak
kalau suatu hari nanti
kau berhasil meminang negeri Napoleon
atau, kau hamparkan sajadah panjang
di mana pelaut Britania dilahirkan
jangan lupa
Bumi Pandalungan yang tak punya apa-apa
adalah saksi kecil bagaimana
tabiat selir manusia bisa diraba
kalau tak percaya
beri aku sebiji buku setajam cemburu
akan kutulis kisahmu yang dipermainkan
waktu

Baca juga:  Napas Kabut - Undangan Debu - Undangan Debu - Purnama Kembar - Igauan Kabut - Lulungan Kabut

Kampung Tembakau, 2018

Tak Layak

Aku tak layak, Yume
tak pantas menulis mantra cinta apalagi
tentangmu

belasan omong kosong yang kusampaikan
malam itu
tak ubahnya seperti garis yang memisahkan
langit dan bumi
apalagi aku bukan terpelajar
yang ucapannya berjarak dengan nelayan
aku seorang pendosa yang bersembunyi dari
Tuhan
berharap malaikat terkantuk mencatat segala
kufur yang kupanggul
Kelak, Yume
saat kemana pun engkau memandang
yang tampak adalah kesepian
ingatlah kalau penghalang lelakimu pulang
sesungguhnya
bukanlah soal cinta
tetapi berani tidaknya lidah kekasihmu itu
menyebut namamu di depan penghulu
dan ini perlu kau tuntaskan
setuntas Adam-Hawa melepas rindu

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (4)

Boneka

Kampung Tembakau, 2018


Ardani HK, adalah nama pena yang dipilih penulis. Saat ini bertempat tinggal di Jember, Jawa Timur.

 

 

[1] Disalin dari karya Ardani HK
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 22 Juli 2018