Dalam Sebuah Perjalanan – Menuju Kampung Halaman

Karya . Dikliping tanggal 8 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Dalam Sebuah Perjalanan

aku cukup hafal jalanan ini
tempat di mana aku denganmu
menukar warna sepi dan puisi

lampu-lampu yang berdiri tegak
di tepi jalan ini, sinarnya tak sampai
pada mata dan hatiku. sementara wajahmu
yang disimpan kayu dan seluruh benda
di jalan ini, menyilaukan mata rindu
di balik jantungku.

tak ada yang lebih sunyi
dari jalan menuju Tuhan
dan menujumu. Sebab
segala setiap tikungan
selalu menyimpan pertanyaan
yang gagal aku pecahkan

Yogyakarta 2018

Menuju Kampung Halaman

setiap yang pergi akan pulang
pada muasal. Dunia adalah kata
yang harus dijelajahi untuk
mencari makna yang abadi

Baca juga:  Dari Kisah Mereka, Aku Menjaga Ingatan dan Merawat Kenangan

jalan pulang adalah jalan
setapak menuju masa lalu
tempat di mana masa kecil
berkeliaran dan sawah-sawah
hijau menyediakan pangan

oh, tanah kelahiran
aku datang padamu untuk
memelukmu kembali, seperti
awalmula peluk seorang kekasih
yang penuh kasih

Yogyakarta 2018

Aku Telah Sampai

aku telah sampai
pada ingin yang dingin

aku masih mengerti bahasa
angin, bahasa rerumputan
dan suara degup jantungmu
di sini

semua gerak adalah rindu
yang diarak mengelilingi
masa lalu

Baca juga:  Kau Satu Puisi - Lebih dari Puisi - Hujan di Alenia Keenam

doa adalah kembang api
yang meledak di tahun baru

Yogyakarta 2018

Belakang Rumah

aku mengubur sibuk
pada angin yang mabuk

aku melepas jenuh
pada tawa sawah-sawah

Yogyakarta 2018

Mengunjungi Rumahmu

– Naufal Al-Mahrosi

aku suka pada pepohonan
tikungan, bebatu, dan tanjakan
sebelum sampai rumahmu itu
semuanya begitu ramah padaku
semuanya masih patuh terhadap
petuah-petuah leluhur

aku juga suka pada gunung
yang membelah dirinya
untuk memberikan temu
pada orang di kampungmu;
dengan kampung sebelahnya,
atau pada kesombongan rumahmu
yang masih menyimpan
warisan moyang

Baca juga:  Edelweis Merbabu yang Merindu

Yogyakarta 2018

Syarif Santava lahir di Sumenep, Madura. KIni belajar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Suka Yogyakarta. Bergiat di Komunitas Menulis Pinggir Rel (MPR)(44)

[1] Disalin dari karya Syarif Santava
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 8 Juli 2018