Ingatan tentang Bapak dan Temanggung – Bunga Hujan – Korek Api – Hikayat Temujin –

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Ingatan tentang Bapak dan Temanggung

Bapakku pernah bekerja menjadi buruh cangkul di
Temanggung
untuk menumbuhkan ribuan tembakau di lereng-lereng
gunung
agar anak-anaknya dapat makan bulgur atawa nasi
jagung
juga agar papirnya tetap dapat digulung.

Berangkat pagi demi pulang dini hari
meskipun tidak ada kopi buatan istri.

Telah lama Bapak meninggalkan kami, di suatu pagi
yang begitu brutal namun sepi
sekarang hari-hari di rumah begitu sepi, cangkul dan
sepeda jengkinya sudah tak ada lagi
tidak ada lagi bentakan khasnya, tidak ada lagi serakan
tembakau rajangan di meja beranda.

Kemarin aku sengaja mengunjungi Temanggung, rindu
letak kuburmu setajam tanjakan Kledung.

Pertengahan Juni, 2018

Bunga Hujan

Bunga-bunga hujan mekar sekejap
Sesaat setelah tangis awan mengakrabi atap
Aromanya khas serupa candu yang kerap mengundang
rindu

Baca juga:  Di Hadapan Patung Bung Karno - Pelaut Tengah Malam - Menjelang Panen Jagung - Semangka atau Nangka - Sebutir Embun di Tengah Malam

Aku pernah berharap bisa memetiknya
Namun ternyata itu adalah tindakan sia-sia
: Akhirnya aku paham, kau hanya perlu diabadikan di
ingatan

Serupa angin yang selalu gagal aku terjemahkan
Tetapi menjadi gamblang dalam ketidakpedulian
Bunga-bunga hujan juga kerap mekar
di atas sungai yang memerah, di atas aspal yang kerap
menebar ancaman
Di atas tanah perjanjian, bahkan di atas nisan tak bernama
: Mekarnya kerap mengundang rasa yang rahasia

2018

Korek Api

Atas gesekanlah kita sama-sama mengenal cahaya
Berusaha menggulir nasib pada roda yang putarnya
rahasia
Meneladani jelaga yang kerap menjadi penanda bagi
picu
Sebelum seteru menjadi rindu

Kita kerap tergesa memantik hingga luput
Memahami nafas dan lenguh dahaga
Sebelum menjadi nyala, sebelum dicumbu semesta

Baca juga:  Wuru di Kebun Teh - Mesin Jahit

2016-2017

Hikayat Temujin

Kami mendakwa gugur harum adalah luka
bukan tersungkur oleh tua di tepi perapian
“Tanah pengungsian bertulah, permulaan mengenal
darah”

Maka, kuda-kuda kudu berlari mengulur daratan
kapal-kapal harus memelayari lautan
sebab, setiap kita telah ditanami dendam-birahi
: bala tentara akan menjadi sampah tanpa melukai diri

Keringat demi keringat kita ritualkan pada tarian kematian
satu per satu daratan akan kita lunaskan
lautan demi lautan kita arungi dengan jahanam
sangkakala melengking sampai jauh, bau anyir mengental
hingga jenuh

Kelak ketika kami menjadi bacinan sejarah
kau boleh mengutuk sampai muntah
dan tentu saja kau boleh mencuri diam-diam
peta-peta yang kami buat
yang memanjang dari timur ke barat

Baca juga:  Ratapan Kambing Korban Khianat Ayam

Tapi kau tak usah cari letak kubur kami yang singkur
Kita bersua saja dalam rahasia agar kau dapat melihat
kebengisan yang sebenarnya

2018

Boneka– Hendrik Efriyadi, lahir di Mandiraja Wetan, Mandiraja, Banjarnegara. Dia bergiat di Kelompok Belajar Sastra KPI, Jejak Imaji, dan Klub Baca Kamisan di Kotagede, Yogyakarta. (44)

 

 

[1] Disalin dari karya Hendrik Efriyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 22 Juli 2018