Jalan Sunyi – Meditasi Abu – Meditasi Arus – Ombak Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 1 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Jalan Sunyi

pohon-pohon tanpa daun berderet sepanjang jalan.
ranting-rantingnya merangas lukai wajah rembulan

musim apa ini?

seperti juga penanggalan lain terseok-seok bergegas
ke kubur
kemudian setiap orang akan memberi tanda
mungkin dengan tunas kamboja atau epitaf di nisan
kusam abu-abu
di luar rumah,

entah di kejauhan mana terdengar suara radio
di sela gonggong anjing dan geram kucing
berkabar tentang jalan sunyi.
tentang mimpi yang menguap menjelang pagi.

2018

Meditasi Abu

sama dengan bangkai aku sekejap sirna. mungkin
melesak
dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam
atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang
pepohonan
sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis
tipis

seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah
tahu dalamnya neraka
aku tak sanggup lagi merapal ayat-ayat.
segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci
berubah menjadi serabut-serabut ringkih
seperti putik merambat menuju layu

ìhai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat
apapun.campakkan ingatan
Bergegaslah, kau telah di tunggu kereta dihela delapan
lembu melenguh tanpa henti!

Baca juga:  Tukang Cukur Sajak - Kulukai Hatimu - Puisi Adalah Kawan Keabadian - Keringat Asin Kesedihan Orang-Orang Petambak Garam - Careme -

maka, aku pun berjalan sendiri berdebar-debar mendengar
lenguh itu.
cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama
: akupun anonim!

2018

Meditasi Arus

kumasuki lagi dunia aneh dalam arusku seperti bimasena
tersesat di rumah siput telinga
mencoba bertahan di sana; entah bersemedi atau
meringkuk sembunyi
bara api melontarkan percik dari setiap kelelahan dan
kekalahan
segala resah menjelma ladang persemaian dari tiap
peluh kealpaan
nista membuat tubuh dan ruh terluka menganga serupa
ozon bolong kobong
arus dalam diri adalah sungai meliuk-liuk terseret
arah wilayah asing
derasnya gagal hanyutkan batu-batu, kerikil dan pasir
yang entah sejak kapan bercokol dalam tafakur
menjadi berhala penghalang tunduk sujudku
merintang mata dan hati jadi gulita di terang terik
matahari

mata terhalang batu-batu
batu-batu menghadang segala terang
aku menangisi buta yang berpuluh tahun
menenggelamkan sejarah hidup sendiri

Baca juga:  Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada - Di sebuah Terminal

arus sungai dalam diri masih saja menderas sesat
meliuk-liuk
namun gagal hanyutkan batu-batu, kerikil dan pasir
yang terhampar dalam lekuk tubuh dan riuh ruh

: dan kematianku itu berulang berkali-kali sebelum
sempat aku merasa dilahirkan!

2018

Ombak Terakhir

Nala, lanang sejati tak akan lari dari ombak.

itukah suara terakhir dari semula yang riuh lantas terhempas
di karang sepi
namun lelaki sejati tak pernah menyesali guratan
tapak tangannya sendiri
tak akan menangisi segala kompas yang patah
jarumnya tinggal angka-angka ganjil
tak bakal tergoda meralat hidupnya hanya sebab peta-peta
yang sobek

setiap debur seperti sirip hiu memburu arah lingsir lintang
gubuk penceng
itulah kitab para lelaki yang tak gentar menuju malam
yang selalu condong ke selatan

debur itu iguan serupa tanda seru yang digumamkan
mulut angin
seperti notasi megatruh dengan gesek rebab. dinginnya
meraba kuduk
kami memang para lelaki yang tak gampang percaya
pada ramalan dan kutuk hari hitam

Baca juga:  Jalan Pedang - Bunyi Pedang dan Janggut

kami gerombolan pembangkang keras kepala
merasa pewaris yunus pengendara paus

kami tetap saja membentang layar. arah sama saja:
utara-selatan, timur-tenggara
sama menuju ombak terakhir yang tak lagi biru apalagi
ungu.ugu yang jadi petir

ombak terakhir. gesek rebab dengan megatruh ungu.
gubuk penceng yang tersesat
hanyalah sebagian kecil dari takdir kami yang panjang:
lelananing laut yang mahir!

Nala, ombak terakhir itu kado paling mulia bagi lanang
sejati!

2017

Tjahjono Widarmanto. Penyair tinggal di Ngawi. Buku puisinya Percakapan Tentang Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak, merupakan salah satu pemenang buku puisi 2016

[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 1 Juli 2018