Jelok, Suatu Hari – Kampung Gilang Pandak Malam Hari – Tirto Martani, Hari Minggu Bulan Februari – Banjaroyo di Musim Durian – Sorosutan – Perempuan Bakul Pasar Jodog

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat

JELOK, SUATU HARI

Sungai oya mengaliri batu-batu
Pohon-pohon yang rindu
Aroma masakan Lombok ijo
Mengabarkan pada kita
Ayo kita kesana !

Kampung masih seperti dahulu
Biasa saja, sederhana dan apa adanya
Tetapi telpon genggam seperti Jalan setapak
Memberi garis seperti kompas menunjuk arah
Lekuk kampung menikung di peluk perbukitan
Di tanah jejak pelarian Brawijaya
Di bumi Mataram

Yogyakarta, 2015

KAMPUNG GILANG PANDAK MALAM HARI

Aku seperti mencari arah kembali
Jejak Mangir dan Pembayun di kampung ini
Bakmi jawa di sudut pasar Jodog malam hari
Sekelebat bayangan menuju masa lalu
Ketika Mataram dan Mangir berseteru
Batik menjadi upacara
Setiap hari semua warga menggeluti
Seni tradisi yang menjadi akar
Semangat di kampung ini

Bantul, 2015

TIRTO MARTANI, HARI MINGGU BULAN FEBRUARI

Sekokoh candi kampung-kampung berbenah
Gerobak sapi seperti cambuk menggugah sejarah
Roda gerobak berjalan lambat dan pasti
Membangun jati diri
Walau kalah oleh cepatnya laju mobil di seluruh badan
jalan raya
wajahmu serasa gagah walau tidak bisa mengubah
mengganti alat transportasi yang sudah tidak punya nurani
di kota ini
gerobak dan sapi bagi petani
adalah sehati memilih hidup dengan penuh teliti dan
hati-hati
tidak tergesa di pacu dan di hela
kokohnya seperti candi.

Baca juga:  Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh - Bar - Di Sudut Tembok Kraton

Sorosutan Tahun 2015

BANJAROYO DI MUSIM DURIAN

Musim durian di bukit kulonprogo
Seperti mengajak semuanya untuk hadir disini
Sedikit berkelok ke arah sendang sono dan lurus ke
arah candi Borobudur
Sambil menikmati lekuk jalan
Membayangkan gerak tangan para penari angguk
Dan matahari pagi yang dinikmati oleh para petani
Durian yang tumbuh hasil menanam yang berpeluh
Menunggu bertahun-tahun dan ketika Tuwuh
Seperti memberi Dhawuh menunggu durian runtuh
Sekarang orang-orang menikmati
Gurih dan lezat seperti mukjizat
Melihat orang-orang menjadi semangat
Membenahi kampung sendiri.

Yogya, 2015

SOROSUTAN

(…hening heneng henang)

Seperti derap langkah kaki para prajurit
Bergerak tanpa alas kaki menapaki jalan-jalan kampung
Mencari jejak para penghuni sejarah
Mangir dan Pembayun seperti melewati jalan ini
Berhenti di kampung Nalen dan Sorogenen
Seperti bimbang menunggu waktu pulang ke Mataram

Baca juga:  Ras - Tanah Tuan - Tanah Kita

Menelusuri kampung sorosutan suatu malam
Dalam hening kutatap kampung tanpa lampu
tanpa suara hanya obor dan percakapan orang-orang
Terdengar jauh suara rebana di tabuh bertalu dan berirama
Di sudut lain para pemuda bermain musik
Irama keroncong menyapa malam yang larut

Ada yang membaca puisi di sudut kampung yang sepi
Ada yang menari di dekat kebun
Seperti mimpi di rumah sendiri

Sorosutan akhir Tahun 2014

Perempuan Bakul Pasar Jodog

(….Sejak pagi senyum pembeli
menawar waktu beranjak menjelang subuh
Sambil mengendong hasil bumi…..)
Perempuan tua itu tetap kokoh berjalan
Ke arah utara menuju pasar jodog
Tangan tak lelah terus menguji sayur mayur di tali
Sambil menunggu pembeli , brambang, cabai terus di uli
Berharap dagangan habis dibeli

Pagi yang beranjak
Terasa sesak tukang rentenir antri
penagih kredit harian terhitung tiga jari
ditambah tukang karcis pasar , dan uang sarapan
yang harus terlunasi

Baca juga:  Pemakaman Pertiwi - Surat-Surat Penantian - Malam di Situ Cisanti

tidak hanya menghitung Untung dan rugi
Bati sanak Bati Kadang menjaga kekerabatanKembali ke rumah seusai bedug tiba
Mengatur napas Bersyukur dan bersujud berserah diri

Selepas sholat Asar kembali bergegas
Menyusul suami ke sawah Menyiangi tanaman agar
lekas berbuah
Hingga Magrib tiba kembali bercengkerama dengan anak
Menikmati sajian makan malam yang sederhana

Dalam Tahajud ia minta ampunan
Agar bisa kuat dan bertahan
Bukan menata hidup tetapi melakoni hidup seperti yang
ditakdirkan.

Boneka*) Sigit Sugito, Penyair, tinggal di Kampung Sorosutan. Aktif di berbagai organisasi dan lembaga sosial.Penggerak Koperasi Seniman dan Direktur Festival 5 Kampung se-DIY.

 

 

[1] Disalin dari karya Sigit Sugito
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 22 Juli 2018