Perkawinan Dewi Dewa – Kenang Budi Puan – Siasat Sultan Buton – Teh Jahe

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Perkawinan Dewi Dewa

Segaris mambang datang dari permulaan malam
nancap arah hingga timur pegunungan
bentang angin terluka di bawah kepak layang-layang
curam tebing disapu bayang-bayang
lahir dari perut lembah dan deras kali ambon

Di kali ambon seorang yatim dilahirkan semak-semak
belukar menjerat sejak dari kolong rumah
suara gong menggertak pekak
meniupkan arah mata air
bermuara hingga ke jeriken dan kendi-kendi
datang dari kejauhan layang-layang

Di kejauhan layang-layang para gadis dikutuk jadi
dewasa
menjelma putri khayangan
dipersunting para dewa
lelaki tak cukup boka ialah luka sejarah
tak lebih dari ludah para bangsawan

Putra bangsawan keluarga kaya menggelar pesta
tangis sang putri ditebas kehendak
mereka meraung dari berontak ke berontak
berlari ke rumah sang pujaan lelaki desa

Lelaki desa telah lama mati
di belakang rumah tempat ia bunuh diri
menanggung cinta tak sampai
menanggung malu abadi

Malu lelaki miskin, derita calon pengantin
perempuan kembali ke tangga rumah
orang-orang mempersiapkan pesta
riuh rendah hingga ke segala
perkawinan dewi dan dewa
suci tiada pula tercela

Tiada tercela hanya di muka
berganti masa berganti rasa
percampuran di atas cinta yang dipaksa
lelaki tergoda gula-gula dunia
perempuan merana menjadi janda

Kenang Budi Puan

: teruntuk Wa Ode Wau

Sebab ia tidak lahir dari deras arus kali ambon atau
ludah takdir yang ditujah ke lubang batu sebagaimana
para ksatria atau anak-anak dari dongeng para
leluhur yang kelak berubah gunung, batu-batu, hutan
jati, bentang savana.

Perempuan negeri butuni, berlayar hingga eropa
singgah minum di bandar tiongkok berdagang emas
juga tembaga, bertukar watak budi bahasa.

Sebab ia tidak lahir dari liang tak bernama
tempat sajadah para imam dibentang sepanjang doa
memaklumi kisah-kisah yang dituturkan ayah kepada
anak lelakinya
yang kelak berubah karang menyaksi sultan dari
selatan
memburu tawanan bone yang memohon suaka,
menanti perlindungan.

Baca juga:  Sepahit Kopi - Pagi yang Dingin - Terasing

Perempuan negeri butuni diganjar hadiah oleh tuantuan
belanda
di ulang tahun tujuh belas tak terhingga harta benda
darah para bangsawan menderas di urat nadi
miskin tipu, miskin culas, ia menyusu segala bijak
segala luhur
miskin celaka, miskin bahaya, ia teguh pendirian pada
segala sukur.

Sebab ia tak dirawat rerumpun bambu, atau terbuang
dari bahtera Kubilai Khan
lantas berkuasa sepanjang sejarah di atas tanah yang
subur falsafah juga para arwah.

Perempuan negeri butuni, tak hingga jasa sepanjang
usia silsilah
benteng kukuh harga diri mewujud mimpi hingga
nanti
menanggung duka di muka sultan putra tenggara, di
tengah deras gelombang babad kudeta.
Bijak bestari punya handai hingga ke negeri tak
ternamai
perempuan negeri butuni, lenyap di lembar-lembar
riwayat
musnah dari kisah dan muasal.

*Dari kisah kedermawanan Wa Ode Wau atas keterlibatannya menjadi penyumbang terbesar dalam pembuatan
Benteng Keraton Buton

Siasat Sultan Buton

“Duli, tuanku. Demi marwah juga darah, karang pun
tembaga, binasa segala rupa.
Terkutuk mereka yang alpa. Sebab maut digenggam
titah ksatria, bukan di takdir para sahaya.”
Seorang pendekar berdarah selatan, menarik badik
dari pinggang
menuding muka para tetua, membakar cuaca dengan
celaka

Seperti kisah-kisah lampau, tahun-tahun yang diingkari
para leluhur
syak wasangka adalah jalan lapang bagi dendam dan
amarah
angin darat menjadi tuba, daun-daun yang gugur, juga
sekuntum mawar
jadi abu di dada lelaki dan pelaut. Bukit karang tanjung
tebing menganga di bawah kaki. Garis bahar diterkam
cakrawala mengangkut angin kerajaan Gowa

Baca juga:  Jalan Pedang - Bunyi Pedang dan Janggut

“Tuan tentu tak ingin melihat darah di ujung badik
sang pendekar. Kami kebal akan muslihat.
Negeri-negeri yang jauh, juga kongsi dagang Belanda
pernah kami libas.
Nyawa Aru Palaka tak sebanding kepala prajurit dan
nganga luka di dada para pemuda membusuk diracun
lalat juga belatung.”

Sang utusan berdiri di anjungan, suaranya menggigil
hingga ke hutan Lambusango awan mendung di
Kaisabu adalah juga nasib buruk yang kelak menimpa
Kamaru tiba di bentang Batauga, selimut rimba
Lasalimu tak ada ombak, ikan-ikan menahan napas.
sirip dan insang menepi di pucuk campang
kematianlah satu-satunya yang mengganas di kening
sultan di hari nahas.

“Demi tulah tujuh turunan, demi laknat juga serapah,
telapak putra Bone tidak berpijak di atas negeri
Butuni.” Siasat ialah punya bijak bestari sebab di
peluk sesak ceruk, putra mahkota meringkuk dari
tumbuhan maut yang dipupuk.

Kapal-kapal pinisi mengangkut geram sisa kesumat
melintas di pulau Makassar kembali ke negeri
Mengkasar
jauh di Ujung Pandang jauh di kehendak bertandang.

*Dari kisah sejarah tentang upaya Sultan Buton menyelamatkan Putra Bone, Aru Palaka, yang meminta perlindungan dari kejaran tentara Gowa

Teh Jahe

Setamsil jahe dalam hikayat teh hangat
diasuh kalis rahim gelas
suci dari duli
dari tuba cuaca menjelma biji
risau di usus buntu seorang sekarat

Hangat yang menggigit lambung kita
lahir dari denting aduk perut cangkir
swara swargaloka
menyesap suguhan di tengah
gelaran ceker dan tape goreng
seamsal samadi para bikhu di muka vihara
menghamba ketenangan
menghamba sunyata

Baca juga:  Mungkin Bulan - Di Pasar Simpong

Segelas teh jahe adalah kitab yang dilupakan para tuhan
tanpa ayat atau surat-surat nukilan
ia mencatat riwayatnya sendiri
sebelum matari dilindas kaki langit
setelah angin lingsir di telapak purnama

Luruh ampas hangat teh jahe
pecah di kerongkongan
mendesak dosa-dosa tak kesudahan
memasak gejolak di ulu hati
pemaafan lebih panjang dari kiamat

Sebelum lambung dicuci getir cuka
kita menjelma budha
ingsut ke nibbana
tanpa kuasa diterjemahkan sebagai apa-apa.

Kendari, Agustus 2017

La Ode Gusman Nasiru, lahir di Bau-Bau, 18 Juni 1989, dan kini menetap di Kendari, Sulawesi Tenggara. Beberapa puisinya yang pernah terbit antara lain Meretas Karya Anak Bangsa, dan Pagi yang Mendaki Langit.

[1] Disalin dari karya La Ode Gusman Nasiru
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 22 Juli 2018

 

 

SURAT KLARIFIKASI

Redaktur Media Indonesia
di Tempat

Saya ingin meminta maaf dengan setulus hati kepada Redaktur Media Indonesia. Puisi saya yang diterbitkan pada 8 Juli 2018 di Media Indonesia yang berjudul Kalau saya pelajari dari penulis sebelumnya, yakni Hasta Indriyana yang berjudul Misalnya.

Oleh sebab itu, dengan penuh penyesalan saya ingin puisi yang diterbitkan di Media Indonesia bisa ditarik kembali. Ini akan menjadi pembelajaran bagi saya. Saya mohon dengan segala hormat agar Media Indonesia bisa memaafkan dan saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Bayu Hartendi
Padang, Sumatra Barat