Sebuah Peta Buta

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi

Sebuah Peta Buta

Masih terkenang masa kanak

kau aku mempelajari sebuah peta buta

hanya ada pulau-pulau kota-kota

semua tanpa nama

 

Kau begitu fasih menyebutkan

pulau-pulau dari Sabang ke IVlerauke

dari Sangihe Talaut hingga

Nusakambangan

 

Tetapi engkau selalu bertanya kepadaku

bagaimana nenek moyang sampai

ke mandagaskar melepas jangkar

bahkan sempat berjaya raja-raja

 

Tetapi engkau selalu mengiri kepadaku

dan menguji tanya bagaimana

Sriwijaya dan IVlajapahit

menundukkan bandar-bandar kota raja

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-3 Agustus 2016

 

Hingga negara-negara di Nusantara

bertabik kepada daulat

bhineka tunggal ika

kau aku saling mengagumi sejak bocah

 

Seperti mengagumi sebuah peta buta

tetapi kubayangkan wajahmu saja

aku tidak mampu

hanya bertahun kemudian

ketika kukunjungi kota-kota

bandar-bandar yang

dulu pernah kau tanyakan

aku menjadi heran mengapa

 

Semua tempat yang sempat

kau aku sebutkan dalam mainan khayalan

masa kecil semua dan segala menjadi

bukan sekadar impian

 

Baca juga:  Awas - Batu Layar - Sebuah Peta Buta

Sekarang aku ingin mengambar

kembali tokoh-tokoh yang

ada di dinding kelas dasar kita

Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari

Kiai Haji Ahmad Dahlan

Soekarno, Hatta, Natsir, Buya Hamka

agar di masa tua kau aku semua dan

segala menjadi bukan sekadar impian

 

Sekarang kau dan nama-nama ada di mana

selain di dalam kenangan

air mata kita?

Yogyakarta, 24 Oktober 2017

Abdul Wachid BS, lahir 7 Oklober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumus Sas­tra lndonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di lnstitut Agama ls­lam Negeri (JAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang menjalankan studi Program Doktor Pen­didikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

 

[1] Disalin dari karya Abdul Wachid BS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 22 Juli 2018