Sudahi Perjalanan – B e n g k u l u

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Lampung Post

Sudahi Perjalanan

kusudahi saja perjalanan ini. di kebun teh
aku berleha: memandangi daun
menari, aroma parfum dari ladang terbentang,
seperti kelebat perempuan pemetik di rimbunan

padang. tubuh yang bergerak di antara pepo-
honan,

ranting. dan, ah, kau juga di depanku terse-
nyum

ingin disuguhi sesendok teh manis. dari ge-
lasku yang

selalu menganga. menanti kasih

kusudahi saja perjalanan ini. dari marlborough,
pantai panjang, sampai juga di kepahiyang.
kebun teh
sejauh tatap terbentang. angin ngambang
bebukitan menjulang. inginku padamu terus
melayang

di hampir batas pertemuan
aduh, pipimu amatlah dingin
didera cuaca bebukitan

Lampung 20 Juli 2018

B e n g k u l u

(1)
: bersama Muhammad Alfarizie
aku pulang ke hulu
menjampi nama bapak
kucari lagi bekas tapaknya
yang kutemu sisa gempa
dan rumahrumah kian gemuruh

Baca juga:  Di Keluasan laut - Tukang Masak - Menolak Menjadi Batu - Hari Pekan - Selepas Gerhana

di benteng marlborough aku tegak
mengeker pantai di sana
tampak buih, ombak membentur
pantai. adakah nama bapak di kampung itu?

siapa datukmu? “Senet!”
tak ada lagi nana itu di sini
mungkin laut sudah menyeberangkan
atau tenggelam bersama
kapal patah jangkar?

pulang aku ke hulu
ke rumah bapak dulu
: waktu anakanak…

Bengkulu Hotel, Jumat 13 Juli 2018

(2)
: ayahku, Zakirin Senet
bahkan, sisa jejakmu
sudah terhapus ombak
yang kau toreh sepanjang pantai
tapi masih kuraba
tangan kecilmu di dinding
marlborough — di ujung meriam,
jeruji bui,
kamar soekarno, dan
di langit benteng — begitu hangat.
seperti saat kau mengelus pipiku
waktu aku mau tidur,
amat sayang.
sehingga yang kuingat
ialah senyummu,
gigimu yang acap menyilaukan
(itulah penunjuk arah aku melangkah)
menuju ini Diri.
tapi yang kuingat,
kau menyebut kampung nelayan
terlihat dari pucuk benteng itu.
perahuperahu akan melaut
ataupun merapat di pantai.
untuk satu tujuan
melayarkan umur

Baca juga:  Di Mana Alamat Rindu

agar tidak cepak dikubur

lalu di usiamu yang riang,
kau tinggalkan kampung
seperti pelayar
kau buang sauh dan layar.
kepada dunia
kau ikhlaskan seluruh ragamu.
meski dalam diri kau bawa
juga kampung dan jalanjalan kecil itu.
agar suatu
saat jika pun harus dikubur,
kau ingat di mana
dulu dilahirkan

sebuah kampung tak pernah hilang
sebuah kampung selalu ikut merantau

Bkl 14 Juli 2018

BonekaISBEDY STIAWAN ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, pada 5 Juni 1958, dan sampai kinimmasih menetap di kota kelahirannya. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik di sejumlah media massa lokal dan nasional.

 

[1] Disalin dari karya Isbedy Stiawan ZS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 29 Juli 2018