Surat Debu Pada Air – Aku Hanyalah – Damai – Malam Rindu – Hening – Leburan – Malam Likuran – Subuh –

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Surat Debu Pada Air

Ijinkan aku menyapamu dalam dahaga hasrat
nasehat beraroma mawar
Pandang aku dengan tajam basahmu membahasakan
kalbu
Larutkan aku digenangmu sejukkan rasa hingga
adem isi kepala
Jemput aku dalam alir mbanyu mili agar lembut
ngrasuk hati
Penuhi pintaku basuh kemarau hati pada persetubuhan
kita nanti

2018

Aku Hanyalah

Aku hanyalah butir pasir
Di pinggir pantai getir
Sendiri dan basah
Di laut resah
Aku hanyalah remah sampah
Di tepi laut gundah
Dicibir orangorang lalulalang
Tebar wajah garang

Aku hanyalah pelepah
Dari pohon kalah
Terganti ruang istirah
Tempat orangorang gerah

Aku hanyalah senyum burung
Setia melengkung
Di sayap langit putih
Pada penantian tak letih

Baca juga:  Sajak buat Bapak - Datanglah Kau Padaku - Sajak-Sajak tentang Keinginan

Aku hanyalah…
Aku hanyalah…

Mei, 2018

Damai

Ku ingin kata sejuk bersemi
Menghiasi koran, status juga televisi
Bukan benci apalagi paling suci
Ku mau hirup udara damai
Bukan polusi dari asap tragedi !

16-05-2018

Malam Rindu

Engkau sang penuntun
Aku pelamun
Biarkan ku terbang dalam ujar dan laku
menujuMu
Sepiku kian tenggelam dalam kosongMu
Suwung Mu bersetubuh dalam sunyiku
Sedang pasar dunia surut dan pasang
Kadang menggelombang bimbang
Dan malam kian tenggelam
Aku berselimut rindu padaMu

2018

Hening

Dalam hening ku terus kembara
Cari makna yang belum kutemu
Dimana yang puaskan hasrat
Apa yang lunaskan dahaga
Hening paling ning, kuterus cari-cari…

Baca juga:  Pelagis - Dewayani

03.06.2018

Leburan

Kulebur segala dosa lekat
Sucikan air hakikat
Salah yang parah
Keliru yang debu
Dosa yang busa

Mei, 2018

Malam Likuran

Malam likuran
Terpekur sendirian
Menanti Jibril menemani
Melangitkan dzikir malam sunyi
Cinta Illahi

Mei, 2018

Subuh

Ashshalaatu khairum minannaum…
Mata memberat
Suara adzan mendekat
Bangunkan jiwa payah
Selimut tebal bungkus raga
Kecamuk di dada
Langkah kaki terpaku kaku
Di sudut kamar bisu
Hasrat menarik-narik diri
Kucurkan air suci
Sayup adzan melekat
Magnet jiwa
Segera berangkat !
Embun basuh tiap langkah
Iqomah…
Rumah cahaya menanti
Hasrat hati terisi
Sujud raga sujud jiwa.

Baca juga:  Selepas Musim Gugur - Katakanlah - Hujan di Tepi Musim

Mei, 2018

Boneka*) Agustav Triono. Lahir di Banyumas, 26 Agustus 1980. Alamat Perumahan Puri Boja Blok E.31 Bojanegara, Padamara, Purbalingga. Aktif di Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga, Teater Tubuh Purwokerto, Para Penulis Muda Banyumas (Pena Mas) dan Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) Purwokerto. Mengabdi sebagai guru honorer di SMPN 1 Mrebet, Purbalingga. Melatih teater di beberapa teater pelajar diPurbalingga. Menulis puisi, cerpen dan naskah drama/teater.

 

[1] Disalin dari karya Agustav Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 15 Juli 2018