Bacalah Kami – Kami Membacamu – Dua Hari Dua Malam – Berdiri di Luar – Kiai Syarif

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Bacalah Kami

Bacalah kami. Bacalah.
Indonesia seperti ini lagi.
Bacalah. Kami seakan tidur lagi.
Saban hari menata bantal
yang berduri-duri

Bacalah kami. Bacalah.
Bangunkan kami. Bangunkanlah.
Hari seperti apa lagi
yang hendak kau turunkan
dari istanamu
yang menjulang tinggi

Bacalah kami. Bacalah.
Indonesia bangun pagi.
Sedangkan kau masih keringetan
di ujung tidur yang gemetar.
Lihatlah, kami hinggap
dalam episode yang penuh dengan
hamparan tanah tak berpasir lagi

Bacalah kami. Bacalah.
Kami singgah sesekali
dalam diri lain.

Bacalah kami. Bacalah.
Surga beranak-pinak
dalam dasar lelap
dan godaanmu
yang bermekaran lagi

Bacalah kami. Bacalah.
Indonesia membangunkanmu
dari setiap petaka.

Bacalah kami. Bacalah.
Pagi semakin gundah.
Mengeja hari-harimu
yang kian patah-patah.

Kendal, Agustus 2017

Kami Membacamu

Kami membacamu. Kami mengeja.
Bagaimana degup dada dan hentak kaki berirama.
Kami membacamu. Kami mengeja.
Bagaimana suaramu menghantam semangat kami.
Dalam batin dan segenap jiwa.

Kami membacamu. Kami mengeja.
Tanah air bergerak menuju ke hadirat raga kami
yang tak pernah sempurna. Kami membacamu.
Kami mengeja. Peluh dan keringat tumpah mengaliri
setiap waktu. Saat kami tumbuh menjadi jejak
yang tak sanggup bersuara tanpa kemerdekaan
darimu.

Kami membacamu. Kami mengeja.
Betapa hidupmu tak pernah sia-sia.
Betapa perjuanganmu tak pernah kunjung reda.
Kami membacamu. Kami mengeja.
Betapa segalanya tumpah menjadi satu.
Menjadi Indonesia. Negeri yang tak pernah goyah
sepanjang masa. Selama-lamanya.
Selama kami membacamu. Selama kami mengejamu.

Baca juga:  Gerimis Sore - Mawar - Di Jalan - Hujan Menikam Malam - Angin - Pelangi

Kendal, Agustus 2017

Dua Hari Dua Malam

Dua hari dua malam
Lewat dalam dua jam yang getar
Aku ingin sejenak bertapa
di bahumu sebelah kanan

Dua hari dua malam
Roda tak lagi diputar pelan
Aku ingin bersamamu pulang
Menuju hari-hari berlalu lalang
di sekitar rintik dan telapak tangan

Dua hari dua malam
Aku tak ingat apa-apa
Begitu pula denganmu
Yang lenyap dalam pelajaran
dan masa silam

Dua hari dua malam
Aku tak kunjung bangun
Dari sisa-sisa pengembaraan
dan kau, meninggalkan jasadku
Yang gemuruh di balik doa-doa
Hingar-bingar dalam dada-dada.

Kendal, Agustus 2017

Berdiri di Luar

Maka berdirilah kami
Di atas tubuh-tubuh yang berapi-api
Maka melambunglah dada-dada kami
Di bawah ruang yang tak bersekat lagi

Maka berdirilah kami
Dari dalam benak dan batin yang paling sunyi
Dari dalam angan dan ingatan
yang kerap tidur di siang hari
Dari dalam takdir yang dikelilingi kehadiran
yang tak mati-mati

Maka berdirilah kami
Dari segalanya yang selalu mencoba belajar
Memahami banyak hal di luar tubuh kami
Menekuri beragam ruang di luar kegagalan kami

Kami kerap berupaya untuk menjadi diri lain di luar
tubuh kami
Kami kerap bersandiwara untuk memutar rupa lain
Selain wujud yang diriwayatkan di luar rumah-rumah
kami
Kami hendak menjadi serupa, tapi apakah bisa
Kami hendak menjadi seragam, tapi lihatlah
Di luar sana, orang-orang mulai mencangkok lengan
tangan-tangannya
Orang-orang menanam beton di punggungnya

Baca juga:  Lampu Merah - Kehidupan Aneh di Balik Jendela - Hujan, Maukah Kau jadi Temanku - Televisi yang Membesi

Mereka telah lupa, betapa masa lalu
telah membentuk diri sangat lain bagi sesamanya
Mereka telah lupa, betapa masa depan
telah menjunjung berjabat-jabat cerita
Kini, kami seakan belajar lagi
Untuk tidak sekadar tenggelam dalam keriuhan
yang sesungguhnya diciptakan saudara sendiri

Maka berdirilah kami, melampaui pagar dan dinding
yang sesungguhnya hanya telah dibuat
oleh orang-orang di rumah kami sendiri

Maka berdirilah kami
Saat kami melihat, betapa megahnya diri mereka
menjelmakan diri kami

Maka berdirilah kami, bersama-sama mereka,
atau siapa saja, untuk mengembalikan segalanya
Kembali merenungkan betapa eloknya rumah kita
Rumah yang didirikan atas berupa rumah-rumah
Rumah yang telah berdiri di atas kepala leluhur milik
kita sendiri.

Semarang, September 2017

Kiai Syarif

Kami tak tahu, sudah tumbuh
dukuh-dukuh baru
Kami tak tahu,
Sudah mekar pengikut-pengikut baru
Kami tak tahu,
Sudah berapa ratus kemuliaan
tumbangdalam punggung sejarah baru

Lihatlah, kami bisa apa
Jika bumi tunduk
Lihat, di sekitar Wanglu Gedhe itu
Bukti bagi ke hadirat
kepada iman
dalam satu musim
yang melipatgandakan tubuhnya

Baca juga:  Badut

Bahkan kami tak tahu, ada apa
dengan Kyai Syarif
Ia dirikan rumah, tempat bersembah
Bagi penyebaran Islam
di sekujur Poncorejo

Masa itu, ia mengajarkan agama
Meriwayatkan ketiadaan dan keabadian
Yang kerap menyundul-nyundul di dada
masyarakat Dukuh Binangun,
Bandingan, Kaumsari, dan Planjen

Meski bagi Kalang,
tiada bisa tertembus syiar
yang dibawa olehnya
Tubuh mereka tergeletak
Membaca tuhan dalam terbata
Membaca diri dalam sepenuh tiada.

Kendal, September 2017

Bacalah kamiSetia Naka Andrian lahir dan tinggal di Kendal, Jawa Tengah, sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang itu telah menerbitkan buku puisi tunggalnya berjudul Perayaan Laut (April 2016), Manusia Alarm (Agustus 2017), dan Orang-Orang Kalang (Agustus 2017). Setia meraih Anugerah Sastra Litera 2018 sebagai penulis puisi unggulan dan penghargaan Acarya Sastra 2017 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

 

[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 26 Agustus 2018