Kandas – Cahaya – Kematian – Kepada

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Lampung Post

Kandas

Jalan ini terlalu jauh untuk ditempuh
Dan tak menawarkan apa-apa
Selain sejumlah kegelisahan dan kecemasan

Tapi, kita telanjur butuh rumah baru
Halaman yang luas dan taman dengan bunga
lili
Agar kembali tunas cinta yang telah mati

Sepanjang jalan, pohon-pohon tinggal akar
Kering bercampur abu, sementara asmara kita
Telah kandas dilahap api cemburu

Tak ada rindang pohon di jalanan ini
Kau memilih pergi tatkala hujan mulai turun
Sebab, tanganku tak lagi menjadi payung
bagimu

Rajabasa, Juni 2018

Cahaya

Asmara barangkali sebuah lubang gelap
Di mana kita terperangkap di dalamnya
Dan tak menemukan kilau cahaya

Mungkin karena kau tak juga memahami
Bahwa cinta yang terbina adalah samsara
Datang dari percikan najis dan hina

Baca juga:  Roh-roh di Tangan Mariana

Tapi, kita tak pernah berhenti berharap
—meski kecemasan semata yang ada—
Akan tiba apa yang kita damba-damba:

Cerlang cahaya meremah insomnia kita

Rajabasa, Juni 2018

Kematian

“Apa yang dapat menyatukan kita;
Selain maut yang begitu lembut?

Di pagi yang murni—sebelum najis
Tiba—ada yang mengetuk pintu

Ialah maut yang purba bertangan dingin

Kita membuka pintu juga jendela
Saling bertanya: dari mana ia berasal?

“Aku tiba. Pulanglah pada muasal”

Lalu terdengar ramai suara tangisan
Isaknya menciptakan batu nisan

Maut begitu lembut
Seperti telapak tangan ibu menengadah

Maut sangat halus
Seperti kata-kata ibu merumat doa

Baca juga:  Di Antara yang Terserak - Aku Membatu

Maut terlalu kuat
Seperti kaki bapak yang mencari nafkah

Maut sangat bijak
Seperti punggung ayah memanggul keringat

Esok nanti, darah kita akan mengalir lagi
Di rahim yang lain, di pagi yang dingin

Rajabasa, Juni 2018

Kepada

Kepada mata yang mengukur cahaya
Kenalkan aku pada warna-warna bunga

Kepada kaki yang menghitung jarak
Bawalah langkahku pada sebuah dermaga

Kepada kapal yang menyusuri gelombang
Tenangkan aku agar hidupku seimbang

Kepada kebijaksanaan
Terbuat dari apa jantung seorang bapak?

Kepada jantung bapak, begitu lembut
Ia berdenyut di dada seorang ibu

Kepada ibu yang melahirkan bahasa
Ajarilah aku merumat doa-doa

Kepada doa yang selalu meminta amin
Lapang dada kedua orang tuaku

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-4 Januari 2016

Kepada kedua orang tuaku
Maafkan, aku tetap menjadi kanak

Kepada anak-anakku, rumatlah telapakku
Agar surgamu tetap ada dan terjaga

Rajabasa, Juli 2018

BonekaDwi Satria Yuda, lahir di Padangratu, Lampung Tengah, 23 Mei 1992, dan berdomisili di Rajabasa. Gemar membaca dan menulis sastra dan aktif memusikalisasikan puisi-puisi sastrawan Indonesia.

 

[1] Disalin dari karya Dwi Satria Yuda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 12 Agustus 2018