Lelaki yang Tekun Memunguti Senja

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Lelaki yang Tekun Memunguti Senja

ia masih saja berlama-lama mengukur panjang hari
banyak peristiwa, rencana atau ilusi nerlalu-lalang di
dalam kepala. tak ketinggalan cemas-cemas hadir
seperti mendung yang berarak bergerak menutupi
pancar cahaya matahari, meski prakiraan cuaca
mengatakan hari itu cerah lagi. namanya juga
prakiraan, tak mesti benar bukan, kata sebagian
orang. ia cuma manggut-manggut saja. ah, siapa di
zaman akhir ini yang bisa do[ercaya. bukankah
ramalan adalah juga bagian dari perniagaan, yang
dibutuhkan dalam gerak untuk meramaikan sendi
dunia yang makin trenta

komputer dan telepon seluler telah melekap ke
detak dan napas kenyataan. seperti membimbing ke
mana laju kehidupan, memberikan skenario
perjalanan yang begitu sulit untuk ditampik, meski
berbagai pertanyaan tentang seputar kemanusiaan
tak pernah terjawab dengan baik. semakin banyak
yang sibuk mengejar keriap mimpi. seperti kupu
kupu beterbangan di atas kepala, menggoda hingga
memenuhi persepsi dan suasana, nyaris tak ada lagi
yang mendengar, pada curam cakrawala ada rintih
matahari terbenam, dan langit pun muram.

Baca juga:  Turangga Matahari - Lingsir - Gerimis Kepagian - Penunggu Musim

banyak orang yang gegas pergi seperti berlari.
mengikuti mekar perubahan yang mendesakkan
kebaruan, sekaligus menumbuhkan keharuan pada
sisi lain yang kian tak terlihat lagi. sementara ia
memilih bertahan, sendiri memunguti senja yang
berjatuhan di ruang tunggu kesunyian.

Bekasi, 2017

Angan-angan Rumah Kita

kita telah diliput debu, menjadi ornamen di kelopak napas
bertaruh tentang musim yang akan membawa ranum
kebun kebun anggur
dan tak berharap ada musim gugur
karena kita membenci serakan daun daun
juga putik sajak yang terburu meluncur turun

abad menangis karena selalu saja ada martir
tetapi mata dan telinga kita telah terlampau sibuk
oleh kecamuk yang kita susun
dari sengkarut akar persepsi dan kecemasan
yang dengan lihainya kirimkan pagut sekaligus kabut
seperti ciuman dari kekasih jauh dari tingkap mimpi
dan kita selalu meminta kembali

Baca juga:  Prolog Geliat Musim (2) - Gempa Palung Dalam - Mimpi Kalender Lama - Akumulasi Lupa

lalu kita sampai pada entah
seperti pohonan kering dengan dahan
dan sisa daun tengadah
memandang tatapan langit
sembari menyusupkan ramalan dari keriput harapan
sepertinya kemarau tak jadi datang

tetapi bukankah rindu kerap tak memberikan apa apa
selain kekosongan yang melimbur
dan menekankan paku di tubuh kita yang luka
hingga kembali berdarah, bergetah
menukik ke lingkaran tahun
hingga menyungai arus kefanaan yang gila

bisa jadi memang tak ada apa apa
di luar tubuh kita
karena seluruh detak ada di dalam
dasar kediaman rahasia
maka tak perlu mengulur perseteruan kata
mari kita pulang ke dalam rimbun angan angan
rumah kita yang paling nyaman

Bekasi, 2017

Perantau Kata

kaujelajahi kota kota di dalam tubuhmu yang purba
berkendara kata kata yang tak letih bersuara

Baca juga:  Setelah Pertemuan - Pintu Kecemasan - Rumah - Ketika Hujan Mengetuk Rumahku

singgah ke taman-taman dengan banyak lampu
tapi tak lebih terang dari pijar kesabaranmu

mengikuti apa yang menjadi panggilan diri
ribuan puisi berenang di sungai nadi

mencatat gelagat dan isyarat gerak dunia
segala golak hanya permainan dan canda

lagu gaduh bertubi-tubi menyergap gelisah waktu
mengirim keterasingan ke degap tirakat rindu

bersama sekumpulan kalimat sunyi engkau bertahan
menempuh kiblat hati, menyusun riwayat keberadaan

Budhi Setyawan, lahir di Purworejo Jawa tengah, 9 Agustus 1969

[1] Disalin dari karya Budhi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 26 Agustus 2018