Nira – Doa – Kita – Tenun – Mengenang – Ranjang Bambu Ema’ – Adakalanya

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Nira

1/
Matahari masih di punggung gunung
bapa’ meranakan ranjang
pinggang terselip sebila parang
meluruh daun-daun lontar di ladang

Cahaya di langit pojok timur
cerah di rambut uban bapa’
daun-daun dipungut satu-satu
digelar di ubun alang-alang

Alangkah indah mata bapa’ memandang
helain daun-daun lontar kering
seperti memandang ema’ di ladang
kala menabur benih-benih jagung

Kemudian tangan telaten ema’
menganyam daun-daun lontar
jadilah nira

Nira tak bisa jauh dari tungku batu
seperti ema’ tak bisa hidup tanpa bapa’

2/
Ema’ mengipas bara
asap membumbung tinggi
bagai dupa dalam ekaristi

Bara di tungku menyala
ubi, pisang, sayur, nasi matang
kami melahap dengan riang
sampai ubun ema’ bertunas uban

Catatan
Nira: kipas yang digunakan untuk menghidupkan
api di tungku batu dalam budaya Lamaholot, Nusa
Tenggara Timur (NTT).
Ema’: panggilan khas ibu di Lamaholot.
Bapa’: panggilan khas bapak di Lamaholot.

Benhil, 21 Juni 2018

Doa

Bapa’ meramu doa di pusar ladang
Ema’ meniupnya daritungku batu

Anak-anaknya mencucut di meja bambu
Meja perjamuan penuh seluruh kenangan

Baca juga:  Tuhan Sedang Bapergian 

Benhil, 9 Mei 2018

Kita

1/
Kita,
dua pancang di pesisir
kaki merah legam bernanah, penuh bilur
masih tegar kita menopang pelantar,

pelan-pelan kubergumam,
bolehkah, jari-jari dua tangan kita saling
menggenggam?

bukan untuk mengumbar pengorbanan,
tapi semata-mata merasa derak tulang di tangan

sebab,
dulu aku sering memandangmu di ladang
lumbung, kita menabur benih jagung.

2/
Kita mesti lekas ke laut
menarik pukat hingga pesisir
agar kintao dititip bapa’
tidak yatim

kita harus segera ke hutan
menyeret kayu sampai ke dapur
supaya tungku batu diwaris ema’
tidak piatu

kita wajib bergegas ke kamar
menyarungkan kwatek hingga kepala
agar ama’ dilawat sepi
tidak merasa yatim piatu

Catatan
Kintao: alat untuk menampung hasil laut, di pulau
Lingga, terbuat dari anyaman rotan atau bambu.
Ama’: panggilan khas untuk saudara laki-laki di
Lamaholot.
Kwatek: sarung tenun Lamaholot.

Matraman, 8 Desember 2017

Tenun

Selembut apa kata-katamu
tak selembut kapas ema’
yang digulung jadi benang

Lalu tangan ema’ menenunnya
di dapur tanah seperti sediakala
engkau ditenun di rahim ema’

Baca juga:  Burung Kuwok - Nelayan Siam - Duke Island - Tjang 11

Benhil, 11 Mei 2018

Mengenang

Aku selalu mengenang di meja makan
bapa’ menuang air dari cerek
mencedok nasi dari sringa’
membagikannya di piring
untuk semua penghuni rumah

Aku selalu mengenang di korke
penatua menuangkan arak dari botol
mencubit daging ayam dan telor ayam yang
dipanggang
meletakkannya pada tempurung
untuk semua penatua di seputaran korke

Aku selalu mengenang di meja altar
aku menuang anggur ke dalam piala
memecahkan hosti dalam patena
menyimpannya di sibori
lalu membagikannya pada jemaat

Catatan
Korke: rumah adat di Lamaholot.
Sringa’: tempat menyimpan nasi.
Arak: minuman disuling dari tuak pohon lontar yang
selalu diminum pada acara adat Lamaholot.

Matraman, 9 Desember 2017

Ranjang Bambu Ema’

Sekali waktu,
aku mesti merapikan buku di meja
bergegas ke ranjang bambu ema’
menengok rambut ema’ dikeramas santan kelapa

Sekali-sekali,
aku harus meletakkan pena di tas
segera ke ranjang bambu ema’
melihat kutu rambut ema’ dicari tetangga

Sewaktu-waktu,
aku harus menanggalkan HP di kamar
lekas ke ranjang bambu ema’
memandang uban ema’ dicabut dengan kerikil

Baca juga:  Nyanyian Purbani - Berdendang di Negeri Garis Bakar Matahari -

Bila waktu itu datang,
aku ingin memberikan ema’ ranjang baru
sampo termahal dan pinset tercanggih
supaya rambut ema’ hitam terurai panjang

Matraman, 9 Desember 2017

Adakalanya

Adakalanya kita perlu ke gunung
menebang dahan-dahan kering
pada lekuk-lekuk lembah

Adakalanya kita mesti ke laut
membaca buih-buih gelombang
pada ceruk-ceruk pasir

Adakalanya kita harus ke dapur
mencicipi kerak-kerak nasi
pada periuk-periuk tanah

Adakalanya;
kita hanya pandai berbual!

Matraman, 9 Desember 2017

Martin da Silva, seorang rohaniwan Katolik asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mahasiswa S-2, UPH, Jakarta, telah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul Manusia Puisi (2015) dan Sublimasi
Cinta (2017). Puisi-puisi yang lainnya dimuat di beberapa buku puisi antologi bersama.

 

 

[1] Disalin dari karya Martin da Silva
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi 19 Agustus 2018