Riuh Kesunyian – Di Raimu yang Kutolak – Jalan Berkelok – Jalan Hidup

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Riuh Kesunyian

Baru saja kekabar jenggot kebakar
orang ngumpet kemaluan, syahwat kuasa belalak
mata
orang-orang. Akupun urung unjuk gigi, tapi tutup
mata.
Baru saja ayam dibakar, orang ramai berhidangan
aku sendiri malah melongo di luar menghitung
jari
ketemunya hari begitu sunyi.

Baru saja rumah terbakar, orang ramai berairan
seperti juga aku beremberan siram riuh sampai
dingin
lalu sesudahnya tanah merata, lolong selekasnya
berbayang tentang sunyi tak henti-henti.

Baru saja hati berkobaran, jantung mendera dada
sampai tersengal. Kemarahan ini atas sendirianku
di gang-gang sempit kemruyek orang atas gedung-gedung

berjulangan
ke langit. Langit tak menjawab kecuali beri kami
hujan
ramai banjir juga sepi hati lagi.

Ajibarang, 2018

Di Raimu yang Kutolak

Gemrenggeng kerumun orang tawa bergelasgelas
aku sendiri di pojok mata berlelehan. Oplos usus
rantas
mereka tahu. Aku teriak jangan, tetap saja tak
nggugu
sungguh sepi aku di ramai mereka.
Mestinya, jalan yang aku beri adalah berakhir di
terminalmu
mestinya, alir yang aku beri adalah air berakhir di
muaramu
tapi kau elak gelar kau punya sajadah sekar.

Baca juga:  Seekor Keledai Memasuki Kerajaan Surga

Untuk itu, ijinkan aku ke ramai hati meski harus
sepi sendiri
aku ingin pulang selekasnya, menemukan gelasgelasmu
untuk kubuang. Aku ingin pulang dekap, menguras
kolam
galak. Agar saat kau pulang terlambat aku lebih
gampang
menambat. Amin.

Ajibarang, 2018

Jalan Berkelok

Kendali sempurna ada di hati berbenah
tabah menghayat tubuh tak mengaduh
jalan selamat menjalani kelok tak luruh-luruh.
Bagi yang suka mengaduh, itu artinya tak lolos di
jalan kelok.
Begitu pula yang misuh-misuh, tempat sampah
para
pekesuh.
Maka beritahukan teman untuk berjaga meski
mata berpejam
gelar sajadah panjang mengkali bermuara laut
redam
jalan berkelok menjadi padang panjang penuh
tenteram.

Baca juga:  Sang Penyair

Ajibarang, 2018

Jalan Hidup

Awalnya atas, orang berkata jalur langit
luruh jadi wewarah lewat hujan kita kesenangan
dalam jeda langit kosong kerontangan. Tapi
misuhlah
seketika
dalam gerutu hujan tak habis-habis,
bandang air loteng pun kekebakan tangan tolong
cecawelan.

Lihatlah tanah basah coklat jadi kanvas hijau
untuk rumput hingga pepohon melampau-lampau
kaki pun butuh jalan, kanvas tertebang parang
tengok kirikanan
butuh makan akar dimakan dahan dimakan
daun dimakan
buah dimakan
Tuhan selalu melebihkan, pemakan ditambah
nafas hewan
Aku menyaksikan jalan belajar lewat saling
memberi
tumbuhan-binatang.
Tapi kita tidak. Kita cuma mengambil, menyikat
dengan
mengumpat bangsat !!

Baca juga:  Belajar Menggambar Ibu Kota

Ajibarang, 2018

Boneka*) Edi Romadhon. Lahir di Ajibarang 21 April. Dengan berpuisi pernah melakukan pertunjukan di Malaysia (2007), Republik Ceko (2007) dan Singapura (2015). 

 

[1] Disalin dari karya Edi Romadhon
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 26 Agustus 2018