Senyum yang Pergi – Senyum Dara Desa

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Pikiran Rakyat

Senyum yang Pergi

Saat dingin merampas hati, maka sepi

semakin menikam diri.

 

Apalagi yang harus kutunggu, malam saja

sudah serupa silet yang menguliti.

 

Adalah senyummu yang lari sejak pagi.

Kuharap tengah malam datang lagi.

 

Tapi rintik hujan tak membawanya kembali.

Hanya sepi yang kian deras menguras mata ini.

Senyum Dara Desa

Aku mendengar kesiur angin senja di sebuah desa.

 

Senyum seorang dara selalu datang tiap petang.

Baca juga:  Darah Maria di Sudut Dili

Dia tinggal di ujung jalan setelah tiga belokan

dari tempat jantungku berdentang.

 

Sedang satu belokan kuhitung jauhnya.

“Besok pagi baru sampai di sana,” kata mereka.

 

Oh, begitu jauhkah?

Begitu susah untuk melihat senyum merekah?

 

Dia perempuan yang dipuja hingga

banyak pemuda yang mengulurkan cinta.

Tapi konon, belum ada yang berkenan di hatinya.

 

Aku masih berdiri di sini. Mengukur jauhnya jarak antara kita.

Tapi kesiur angin senja selalu mengarah ke sebuah desa.

Baca juga:  Kasihanilah Mereka, Maryam!

Boneka

Dedi Tarhedi, bekerja sebagai ASN Pemerintah Kota Tasikmalaya. Buku antologi puisi yang su­dah terbit: Ciuman Paling Membara Walau Kita Sengsara (Situs Seni, Bandung, 2016), Kebun Cinta Yang Terjaga (Situs Seni, Bandung,2016), Gerimis Subuh (Situs Seni, Bandung 2016), Hidup Makin Tak Mudah (Langgam Pustaka, Tasikmalaya 2017).

 

[1] Disalin dari karya Dedi Tarhedi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 12 Agustus 2018