Sepucuk Angpau Merah – Sindrom Manusia – Kalau – Hujan dan Sepoci Kopi

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Lampung Post

Sepucuk Angpau Merah

Sepucuk angpau merah. Dari mata kecil
mungil
Aku tidak tahu isinya
Mengakhiri pertemuan. Merapatkan
perpisahan
Jari dirapatkan. Kurasa di dalam kini
menyeka dada
Orang-orang melintas badan jalan.
Perpisahan
Aku pulang kembali kerumah
Aku mencoba membuka angpau merah
Tapi aku ragu membukanya. Biasanya angpau
berisi uang
Tapi, mengapa dia memberiku uang. Aku
tidak membutuhkan uang
Jalanan mulai keruh. Tutup pintu
Pada malam hari, aku buka angpau merah
Aku mengenang orang-orang hilang
Sudah tanggal berapa sekarang?

Padang (2018)

Sindrom Manusia

Malam adalah waktu paling tenang untuk kita
menulis
Di sana kita bisa menemukan
bahwa orang tak sepenuhnya kehilangan
Adalah sang waktu yang mengenalkan
Ketika kamu yang hilang tanpa jejak
Aku bisa mengenang melalui sajak
Sembari memangku harapan-harapan yang
baru dimulai
Hasrat bersanding dengan seorang wanita
Menjadi warna paling
kental dalam untaian doa
Begitulah, satu titik dalam
kehidupan kita,
manakala semesta
mendukung, dan kita pun
berubah tanpa kita
rencanakan
Kita bisa menyukai
sesuatu yang sebelumnya
kita benci

Baca juga:  Bilik Suara

Padang (2018)

Kalau

Coba kalau dulu tak ada
kita
Barangkali aku tak paham
Bahwa di dalam celana
ternyata ada Tuhan.

Padang (2017)

Hujan dan Sepoci Kopi

Foto digital di layar datar
Melukiskan tubuh hingga parasmu
Diam terpaku aku menatapnya
Satu dua detikku palingkan mata
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Bak titik titik embun nan syahdu
Sajak terkuak bak sastra kata
Biar berleleran kata manis madu
Selembar kertas dan sepoci kopi
Perpaduan warna nan mencolok
Hasrat tak dapat terhenti
Pensil menjadi goresan pertama dalam benak

Baca juga:  Daksina - Legenda Dusun Orong Naga Sari - Saat Rasa Itu Datang - Ku Lihat Cinta Kita

Dinding teras seakan menjadi lembaran
Langitmu berkelepak
Mengirim jerit selaksa gagak
Tarianmu menderu bagai guntur
Jatuh tercurahkan hujan nan sangkur
Katamu hujan itu senyuman
Katamu angin adalah belaian
Namun ketika pelangi mengganti rintiknya
Engkau lupakan tiap tetesnya
Hujan dan sepoci kopi bak penghantar
memori
Berikan aku sebuah kompas
Agar ku dapat mencari jalan pulang.

Riau (2018)

BonekaBayu Hartendi, kelahiran 16 April 1997, merupakan mahasiswa BP 2015 pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Padang. Buku puisi yang pernah diterbitkannya yaitu Diftong (2015), Pasak Negeri
(2016), dan Sudut Kartograf (2017).

 

Baca juga:  Tak Seutuhnya Tertampung Kata - Sepucuk Angpau Merah - Sindrom Manusia - Kalau - Hujan dan Sepoci Kopi - Elegi Tanah Lot di Sudut Kartograf

 

[1] Disalin dari karya Bayu Hartendi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 26 Agustus 2018