Tukang Cukur Sajak – Kulukai Hatimu – Puisi Adalah Kawan Keabadian – Keringat Asin Kesedihan Orang-Orang Petambak Garam – Careme –

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Tukang Cukur Sajak

Kucukur kata-kata gimbal menyesaki dada sajak
Demi diksi dan kalimat nikmat kubaca dalam hati
Hari-hari gesit berselancar di atas ombak
kebingungan
Tanpa kutahu begitu cepat Sabtu pulang ke Jumat
Secepat Jumat datang ke Sabtu

Tak ada pekerjaan paling mulia bagi penyair:
selain memangkas kata-kata yang terlihat gondrong

di kepala sajak: yang hanya mengaburkan makna-
makna puitis dalam setiap lubuk hati metafora

Bila esok hari atau esoknya lagi gunting imajiku
tumpul
Kupinjam gunting-gunting penyair tua yang lebih
tajam
Sebagai batu asahan guntingku agar lebih mengkilau

Seakan tak ada hari libur bagi pikiranku menghirup
udara segar
Ketika setiap hari sajak-sajak mengantre di depan
rumah mataku
Seperti rumah sakit yang tak pernah kosong dari
antrean orang sakit.

Jurang Ara, 2018

Kulukai Hatimu

dengan Kepergian
Demi kenangan yang terus jatuh ke kali
ingatan
demi rindu yang sekian detik menggema di
goa hatiku
dan demi masa yang tak ada nama selain
masa kesedihan

Maaf, Pinanganku

Kulukai hatimu dengan kepergian,
setelah pelukan lama
tinggal kenangan dalam pikiran. Lalu,
dalam bus yang makin menjauh
kubayangkan kau pulang dengan resah
menganyam kalimat dalam
ingatan: kuharap kau tak lupa pada jalan
kampung hatiku sebab telah
kusediakan kenikmatan yang membuatmu
lupa pada segala-galanya.

Baca juga:  Elegi Tentang Persimpangan Perempuan - Sebuah Fotokromik - Kepada Sesuatu

Jurang Ara, 2018

Puisi Adalah Kawan Keabadian

Barangkali gema hati mesti tahu bahwa puisi
adalah kuburan paling rahasia merahasiakan
segala keriangan dan kemurung muka kehidupan

Sebab, di sana tak ada satu semut pun yang
mengetahuinya
hanya kata-kata dan makna-makna yang saling
bercakap tentang asin-manis perasaan, atau tentang
keringat darah kesedihan penyair yang semakin
deras mengucur dari segala kutub masa lalu

Maka, kupilihlah sebidang ladang puisi sebagai
kuburan bagi jasad-jasad kesedihan dalam ingatan,
di saat reranting kenangan terlalu lapuk menjadi
gantungan baju-baju air mata yang tak mampu
kugantung pada batang-batang kenyataan ini

Maka, ketahuilah bahwa puisi adalah kawan
keabadian
yang mengabadikan babad air mata dari segala
bentuk mata
perasaan. Tapi, kadang-kadang masih kudengar gema
asing
dari lembah kegelapan arti kata-kata: mereka
mengatakan
puisi adalah dunia imaji, tetapi mereka tidak sadar
bahwa

kenyataan adalah karya ilusi Tuhan yang dikekalkan
puisi

Sebab, puisi lebih luas dari semesta hati untuk
menampung
segala ragam kesedihan di saat jiwa terlalu rapuh
menahan
sepak-terjang air mata.

Baca juga:  Gema Orang-orang Jurang Ara - Nenek Moyangku Seorang Pesawah

Jurang Ara,2018

Keringat Asin Kesedihan Orang-Orang Petambak Garam

Kurasakan peluh asin kesedihan hati orang-orang
petambak garam
di saat harga sebukit garam hanya menghasilkan
segunung air mata
Mungkin, orang-orang terlalu gemar dan girang
menyambut garam luar
negeri, daripada merawat lidah setia mencintai
sepiring garam sendiri.

Seperti kusaksikan tangan-tangan mendustai surga
alam sendiri dalam
supermarket: mereka borong butir-butir garam asing
dengan harga
setinggi kepengecutan mereka sendiri. Andaikan
telinga mereka sesempurna
telinga Nabi Sulaiman, mereka akan mendengar
garam-garam sendiri
menangis minta keadilan harga dan cinta di pangkuan
para petambak
yang sedang mengulurkan benang-benang
kekecewaan pada pembeli garam

Barangkali mereka tidak tahu bahwa ladang-ladang
garam ini terbuat dari
keringat kening masa lalu nenek-moyang sebagai
petambak garam. Atau
mereka sudah lupa bahwa rasa dan warna laut kita
tercipta oleh biru urat
lengan petambak garam dan rasa asin keringat kuning
para nelayan

Atau jantung surga hidup kita telah berdetak di luar
negeri, di saat segala
kekenyangan ini tercipta dari kepalsuan kemurahan
hati orang asing.
Atau pada akhirnya alam kita dan seisinya menangis
meraung-raung
pada tuhan atas kegelapan kasing-sayang di langit
jiwa para pengecut.

Baca juga:  Cirahayu

Jurang Ara, 2018

Careme

ampungku dihangatkan oleh kabar api
membakar kuping pagi dengan ceracau
bibir-bibir careme perempuan jurang ara
menggema di sudut-sudut keramaian

Di pasar-pasar pagi, di warung-warung kopi pinggir
sawah
telingaku sering menyapa berita api paling pagi:
seperti
kenakalan mata suami atau kejalangan nafsu istri-istri

Barangkali di situlah lumbung kesenangan mereka
mencibir atau meramaikan kacau-balau kehidupan
para tetangga.
mungkin tak ada paling mantap selain menyadap
kekisruhan
hati orang-orang terdekat. tetapi apakah mereka
paham,
bahwa kegembiraan yang terbuat dari tepung
kuburukan hati

saudara sendiri: hukumnya adalah membunuh sanak-
saudara sendiri

Namun, itulah kerja pagi mereka: orang-orang dusun
yang

dikutuk kebiasaan mulut-mulut careme turun-
temurun

barangkali dalam prinsip pikiran mereka: tak ada
celotehan
api paling menggiurkan selain mewartakan kesedihan
dan
keburukan hidup keluarga orang-orang.

Jurang Ara, 2018

Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada 1 Mei 1995. Penulis aktif menulis puisi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Beberapa karyanya tersebar di berbagai surat kabar lokal maupun nasional.

 

[1] Disalin dari karya Norrahman Alif
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 5 Agustus 2018