Di Balik Keindahan Fajar – Kabar dari Tanah yang Berguncang – Cahaya Surga – Kabar dari Duka

Karya . Dikliping tanggal 3 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Di Balik Keindahan Fajar

Saat fajar mulai menyingsing
Di pergelangan pagi yang
Hendak memamerkan wajah kemilaunya
Sebab matahari menghiasinya
Dengan bedak mahal tanpa duanya

Dan seorang ibu ikut menyisir fajar
Bersama laju sepeda tuanya
Seperti kulit keriputnya semakin mendengus lelah
Serta, anak-anak di tungku perapian
Sedang berjongkok bersama dendang kokok ayam

Kemudian melamun di antara gemertak api yang
Menggigitnya pada kulit langsat yang dingin
Mata sayunya berkedip-kedip
Sebab kantuk telah membakarnya bersama lapar
Yang teramat dalam di lumbung harapan

Seorang penjaja rezeki pagi
Berteriak lantang
Agar memperoleh koin-koin
Yang tak seberapa bila fajar
Telah melepas kelamnya beberapa jam yang lalu

Pagi yang mulai berkibar
Ibu pun berdendang syukur
Kembali susuri jalan pulang
Sambil menerawang tangis
Akan nasib anaknya
Yang telah diperasnya penuh kesakitan

Kini, ibu berjanji menggowes
Penuh kasih
Bersama fajar yang tulus hanya dipersembahkan
Untuk orang-orang pemungut nasib.

Baca juga:  Tamasya - Cikaracak - Stasiun Kecil

Purbalingga, 6 Agustus 2018

Kabar dari Tanah yang Berguncang

Kepada bumi yang tengah bergoncang
Meredamkan nyanyian dunia
Kala itu, orang menjerit
Sebab kekuasaan ingin segera tergenggam

Dalam manik-manik yang
Terhias di lengan baju para wanita
Di sanalah bersarang ribuan mata lelaki
Lalu, diam-diam menjelajahinya penuh air mata
darah

Hanya sekadar ingin merajut sapu tangan dunia
Untuk menyeka hujan di sore hari
Pada hati-hati yang rapuh
Oleh sayatan pisau gemerlapnya

Rela, membungkam, kemudian
Hendak melompat di jembatan setan
Menggilas nyawa yang dirasa getir
Tak dapat lagi menopang jerit kesakitan

Dan, kini, bumi tengah bergoncang
Mengabarkan peringatan Tuhan
Akan nyali manusia yang tak lagi
Didengarnya tulus penuh cinta
Atas segala ujian yang tak sebanding
Dengan tumpahan air mata para nabi.

Purbalingga, 6 Agustus 2018

Cahaya Surga

Sepasang embun terlahir setia ‘tuk pintu surgamu’
Adalah ketulusan yang tiada pamrih
Saat meminta hanya sebuah kelakar lirih
Di penghujung sujud

Baca juga:  Puisi Yang Kubakar - Malam - Bisikan Dalam Demam

Dalam polesan alis dunia
Yang melukiskan berbagai decak fana
Beserta kilau matanya yang menatapmu
Dengan beringas seiring berlabuhnya dunia baru

“Ingatlah wahai melati, di setiap pagi telah terjatuh
sungkur.
Di sajadah renta yang setia,
Berkabul kebahagiaan hakiki untukmu,”
katanya dari kerut mata kekasihmu

Lalu hilanglah jelmaan sesat dunia
Saat nurani hendak memeluk lubang hitamnya
Tersebab, sepasang embun begitu menjatuhkan
kesejukannya
Lewat sebening mata cinta.

Purbalingga, 7 Agustus 2018

Kabar dari Duka

Ketika sore mengabarkan duka
Bersama sayap-sayap kasih yang
Abadi menaungi di kalbu sang ibu
Gerimis merembes di cintanya
Yang semakin menggenangi pelupuk anak kecil itu

Langkah semakin terseok oleh badai yang
berkecamuk
Dan memorakporandakan wajah ayunya
Ketika sore mangabarkan duka
Dengan rinai doa-doa meniup kesembuhan
Agar sang buah hati kesayangannya

Baca juga:  Di Seberang Jendela - Tunduk Pada Kata-kata - Seperti Kutemukan Kembali - Mempelai Cahaya - Penantian - Pagi - Tomohon

Segera mengecup senja untuk menjemput binar
malam
Yang tenang, hingga mengalir senyum
Tiada cemas
Di tiap gulir malam ini.

Purbalingga, 7 Agustus 2018

Hardian Rafelia Asril Aini, lahir di Purbalingga, 30 September 1998. Mahasiswa IAIN Purwokerto Fakultas Dakwah itu aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto dan Komunitas Rumah Penyu Cilacap. Beberapa puisinya pernah dimuat di antologi bersama, Hilang (Aria Pustaka: 2017), Sepucuk Kasih dari
Sosok Sayang (Satria: 2018), Teruntuk Cinta (Rekan Media Publish: 2018), dan Surat Untuk Kaki Langit Palestina (Indonesia Writing Club: 2018).

 

[1] Disalin dari karya Hardian Rafelia Asril Aini
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 2 September 2018