Nira – Doa – Kita – Mengenang

Karya . Dikliping tanggal 2 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi

Nira

1/

Matahari masih di punggung gunung
bapa’ meranakan ranjang
pinggang terselip sebila parang
meluruh daun-daun lontar di ladang
Cahaya di langit pojok timur
cerah di rambut uban bapa’
daun-daun dipungut satu-satu
digelar di ubun alang-alang
Alangkah indah mata bapa’ memandang
helain daun-daun lontar kering
seperti memandang ema’ di ladang
kala menabur benih-benih jagung
Kemudian tangan telaten ema’
menganyam daun-daun lontar
jadilah nira
Nira tak bisa jauh dari tungku batu
seperti ema’ tak bisa hidup tanpa bapa’

2/

Ema’ mengipas bara
asap membumbung tinggi
bagai dupa dalam ekaristi
Bara di tungku menyala
ubi, pisang, sayur, nasi matang
kami melahap dengan riang
sampai ubun ema’ bertunas uban

Catatan
Nira: kipas yang digunakan untuk menghidupkan api di tungku batu dalam budaya Lamaholot, Nusa
Tenggara Timur.
Ema’: panggilan khas ibu di Lamaholot.
Bapa’: panggilan khas bapak di Lamaholot.

Benhil, 21 Juni 2018

Doa

Bapa’ meramu doa di pusar ladang
Ema’ meniupnya dari tungku batu
Anak-anaknya mencucut di meja bambu
Meja perjamuan penuh seluruh kenangan

Baca juga:  dung kayangan - gua jepang

Benhil, 9 Mei 2018

Kita

1/

Kita,
dua pancang di pesisir
kaki merah legam bernanah, penuh bilur
masih tegar kita menopang pelantar,
pelan-pelan ku bergumam,
bolehkah, jari-jari dua tangan kita saling
menggenggam?
bukan untuk mengumbar pengorbanan,
tapi semata-mata merasa derak tulang di
tangan
sebab,

dulu aku sering memandangmu di ladang
lumbung, kita menabur benih jagung.

2/

Kita mesti lekas ke laut
menarik pukat hingga pesisir
agar kintao dititip bapa’
tidak yatim
kita harus segera ke hutan
menyeret kayu sampai ke dapur
supaya tungku batu diwaris ema’
tidak piatu
kita wajib bergegas ke kamar
menyarungkan kwatek hingga kepala
agar ama’ dilawat sepi
tidak merasa yatim piatu

Baca juga:  Ingin Sesaat Melupakanmu - Perpisahan Dalam Doa - Irna dan Nadzomnya

Catatan
Kintao: alat untuk menampung hasil laut, di pulauLingga, terbuat dari anyaman rotan atau bambu.
Ama’: panggilan khas untuk saudara laki-laki diLamaholot.
Kwatek: sarung tenun Lamaholot.

Matraman, 8 Desember 2017

Mengenang

Aku selalu mengenang di meja makan
bapa’ menuang air dari cerek
mencedok nasi dari sringa’
membagikannya di piring
untuk semua penghuni rumah
Aku selalu mengenang di korke
penatua menuangkan arak dari botol
mencubit daging ayam dan telor ayam yang
dipanggang
meletakkannya pada tempurung
untuk semua penatua di seputaran korke
Aku selalu mengenang di meja altar
aku menuang anggur ke dalam piala
memecahkan hosti dalam patena
menyimpannya di sibori
lalu membagikannya pada jemaat

Baca juga:  Rinduku Pada Rindumu - Tulang Rusukku - Hati Senapas Umbu - Seperti Berhenti - Bara Paling Cinta

Catatan
Korke: rumah adat di Lamaholot.
Sringa’: tempat menyimpan nasi.
Arak: minuman disuling dari tuak pohon lontar yang selalu diminum pada acara adat Lamaholot.

Matraman, 9 Desember 2017

BonekaMartin da Silva, seorang rohaniwan Katolik asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Mahasiswa S-2, UPH, Jakarta, telah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul Manusia Puisi (2015) dan Sublimasi Cinta (2017).

 

[1] Disalin dari karya Martin da Silva
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 2 September 2018