Permohonan – Tertipu

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

PERMOHONAN

sering kali hati yang rindu bertanya
sebaiknya memohon apa
selain perjumpaan kepada tercinta

apa yang dituntutkan kepada hamba
itulah sebaik-baik permohonan
apa lagi yang mulia selain pengabdian

inilah hakikat setia sepenuh jiwa
tiada lagi sekutu, pun keinginan diri
seluruh hidup mempersembahkan cinta

Purwomartani, 2018

TERTIPU

katanya tak suka tertipu
tapi mengapa
menyesal, tapi tak juga segera

tertinggal cahaya
bersedih
mestinya malam berjaga

cinta bukan hanya rasa
apalagi sekadar kata
tapi bukti nyata

Purwomartani, 2018

DI MANA

seberapa dekat dengan yang dirindu
di manakah saat ini berada
taman berbunga atau jalanan berdebu

Baca juga:  Negeri Semakin Ngeri - Ketemu Puisi Semu - Puisi Teh Pahit - Puisi Kopi Pahit - Puisi Air Putih

maka berlarilah meninggalkan gelap
menuju pagi bersama beburung dunia
yang riang berkicau menyebut nama

sehingga perjalanan usia betapa suka
karena anugerah sepanjang masa
melimpah ruah di segenap semesta

Purwomartani, 2018

BUAH

sudahkah kau rasakan nikmatnya
buah itu, duhai jiwa
sebab dunia ini cerminan surga

bila amalmu diterima
betapa tenang dan lapang dada
langkah pun menujunya

Purwomartani, 2018

LENYAP

tak ada yang membekas
semua lenyap
dalam kesaksian cinta

tak ada yang lain lagi
semua lenyap
dalam wujud sempurna

Baca juga:  Menatap Indonesia - Anak Pertiwi - Pertiwi Tunjuki Tanah Air Matamu - Angan Nelayan - Balada Orang Pinggiran - Kunjungi Indonesia

yang awal yang akhir
hanyalah hanya
sumber segalanya

Purwomartani, 2018

AMAL

siapakah membubungkan
harapan
namun tiada amal

lalu apa bedanya dengan
angan
pejalan dalam bayang-bayang

saat gelap berteriak
cahaya
batu tak memercikkan apinya

maka bergeraklah
duhai
lahir batin menempuhnya

Purwomartani, 2018

TUNDUK

inilah anugerah yang luar biasa itu
tunduk, maka cukuplah duhai
kenikmatan apalagi yang ingin dicari

Purwomartani, 2018

Akhmad Muhaimin Azzet, lahir di Jombang, Jawa Timur, dan kini tinggal di Jogja. Beberapa puisi masuk dalam antologi puisi Tamansari (Festival Kesenian Yogyakarta X, 1998), Embun Tajalli (Festival Kesenian Yogyakarta XII, 2000), Filantropi (Festival Kesenian Yogyakarta XIII, 2001), Lirik Lereng Merapi (Dewan Kesenian Sleman, 2001), Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Pustaka, 2006), dan Kota Terbayang (Taman Budaya Yogyakarta, 2017).

[1] Disalin dari karya Akhmad Muhaimin Azzet
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 9 September 2018