Sepotong Roti – Tarian Topeng Monyet – Bukankah Sisipus

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Lampung Post

Sepotong Roti

Sepotong roti yang pernah kau makan, ting-
gallah sisa

sekarang pisau dan garpu hanya diam tak
bicara
mungkin kita sudah melupakan rasa yang
pernah
singgah
Di antara lidah dan langit-langit, ketika kau
tertawa
menyembunyikan bayang-bayang yang selalu
mengikut
dari gelap dan cahaya masa silam
Lampu-lampu segera kita padamkan, agar
suara yang

bergumam menjadi kalimat yang dapat dipa-
hami

dalam
sebuah makna. Arti yang membawa tubuh di
kedalaman waktu

Kita tak lagi bicara tentang lapar, tapi kesang-
sian

hidup untuk
sampai pada kata-kata yang membuat kita
nyenyak
dan lupa
meneguk air apel yang disiapkan ibu ketika
melahirkan dulu
Ketika Macet
dan Hujan Memanggil

Mobil-mobil yang tak berkaca spion, bertum-
puktumpuk

di jalanan kembali
menghilir di aliran darah dan urat nadi-mu

Baca juga:  Kutukan Rahim (24)

sampai
pada muara jantung
tak juga menghampir sebuah keharusan takdir
yang
membawa pada
sebuah kepastian arah untuk berangkat
Seperti juga hujan yang jatuh tiba-tiba dan
terpenggal oleh senja

yang pucat, kehilangan cahaya untuk warna
yang
kelam
tak peduli oleh keriuhan lalu lintas, lampu
merah di
dalam tubuhmu
Pukul berapa kita akan sampai? Di luar hujan
yang
berpulang pada waktu
Orang-orang hanya berdiri, serupa patung
batu,
bersidekap, diam-diam
melupakan musim yang gelisah diputar oleh
waktu.
Waktumu kah
Yang memanggil di antara suara hujan yang
parau

dan kota yang basah.

Januari 2018

Tarian Topeng Monyet

Tak ada yang percaya kita sama. Berlenggak
lenggok
di antara suara gendang. Menari dengan
wajah
sembunyi
gelap, dan samar di balik bayang-bayang,
kehilangan
tubuh sendiri. Keriput dan kusut
Tak ada yang tahu. Apakah gerak itu adalah
diam
atau kepura-puraan yang lupa pada muasal
bumi yang dipijak di atas kaki yang kering dan
hitam
bergoyang dengan topi bambu terurai di
ujungnya
Wajah siapa di balik geriap cahaya, mencari
celah
untuk terisak, menangis diam-diam, air mata
yang
basah

Baca juga:  Hari Tanpa Kepala

tak ada yang kembali, mungkin hanya kata-
kata yang

alpa
Untuk sampai pada rumah yang dilupakan,
sebuah
beranda
duduk di masa lalu melongok dengan mata,
teralis
jendela

tak ada yang percaya kita sama. Di depan tari-
an yang

berekor, oya, oya.

Februari 2018

Bukankah Sisipus

Bukankah kau sisipus yang menjadi luka
berdarah-darah di tangan, kaki dan kening
dan menangis dalam wajah hitam legam
terbakar dendam, api yang menyala-nyala
Tak letih, tak habis-habisnya menggali daging
tubuh yang kurus, menurun dan mendaki
bukit

Baca juga:  Jalan Kopi - Sebuah Kedai Kopi - Sebuah Kedai Kopi - Biji-Biji Kopi

sebagai sebuah penjara, dari riwayat batu-
batu

yang berat dan tegak kokoh menggapai langit
Di dalam kota-kota yang basah dan anyir
orang-orang terus meludah di jalan-jalan
kerikil
mengutuki kekekalan samsara dan derita
yang terus menerus menghujam tubuhmu
Kaulah yang tersesat, kaulah yang serupa
patung
kaukah seorang sisipus yang muasal terusir
dari
jalan lidah kata-kata yang membusuk dan
berdarah.

Februari 2018

BonekaMustari Irawan, lahir di Jakarta, 21 Juni 1959, di Jakarta. Buku kumpulan puisinya Giang: Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu (Kosa Kata Kita) memenangi Anugerah Puisi Utama pada perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) pada 2017.

 

[1] Disalin dari karya Mustari Irawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 9 September 2018